Madah Puan: Menyalurkan Kemampuan Beraksara untuk Pamit

Madah Puan: Menyalurkan Kemampuan Beraksara untuk Pamit

“Sebaiknya pisah adalah yang disertai pamit. Pun pamit yang disertai ikhlas akan kata iya.”

Aksara itu disusun sangat rapi di dalam sebuah Instagram bernama Madah Puan. Perpisahan yang terencana ataupun tidak, haruslah disertai pamit. Menghargai pertemuan, menikmati hubungan walaupun ditutup dengan perpisahan. Sudahilah dengan pamit.

 

Berawal dari Perpisahan

Ialah Tyas Effendi, sosok dibalik Madah Puan. Ia bercerita bagaimana Madah Puan dimulai. Terdengar sederhana saja, awalnya ia merasa bahwa semakin bertambah umur maka juga akan semakin sering dihadapi dengan perpisahan. Namun yang membuatnya menjadi tidak sederhana adalah saat perpisahan tersebut tidak disertai dengan pamit.

“Awalnya ini bermula dari aku merasa percintaan sulit ya. Semakin kita dewasa, percintaan itu sulit dan semakin kita dewasa, kok kita makin sering diperlihatkan dengan perpisahan. Entah kayak orang terdekat kita yang tiba-tiba meninggal. Kalo masih kecil kan kayaknya hal-hal kayak gitu gak major kita pikirin. Sedangkan perpisahan di usia kita sekarang, semuanya dipikirin sama kita. Bahkan sampai saat aku bersama orang, tiba-tiba sekarang ada fenomena dimana kok mereka boleh aja ya ngilang gitu aja tanpa pamit sama kita padahal kamu memulai sama kita baik-baik aja.”

Dari buah pikirnya ini, Tyas bertanya kepada orang-orang mengenai perpisahan dan pamit. Responnya juga tidak diduga sebelumnya, ternyata banyak yang merasa memulai bersama namun diakhiri satu pihak saja. Dari sinilah, ia menginisiasi Madah Puan sebagai medium untuk bercerita bagi mereka yang mengalami hal sama: perpisahan tanpa pamit dan mengikhlaskan pamit.

 

Membesarkan Madah Puan

Seperti seorang anak, Tyas pun juga memikirkan bagaimana Madah Puan akan tumbuh dan bermanfaat bagi orang lain. Belum terpikirkan oleh Tyas untuk menjadikan Madah Puan sebagai bisnis besar baginya. Ia hanya ingin Madah Puan bisa menjadi wadah bagi mereka yang membutuhkan teman cerita.

“Aku akan bawa Madah Puan kemanapun orang butuh, jadi bukan kemana yang aku mau, tapi kemanapun orang butuh aku. Madah Puan itu support system untuk ngingetin bahwa tiap orang punya self-control & self-acceptance. Jadi aku akan bawa Madah Puan kemanapun orang-orang butuh.”

Tyas menjelaskan bahwa self-control & self-acceptance adalah dua hal yang datang dan pergi dalam hidup, sehingga keduanya sering hilang dari setiap individu dan perlu ada pengingat agar kembali lagi. Tyas berharap agar Madah Puan bisa menjadi pengingat keduanya. Karena, setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri untuk menerima keadaan dan berdamai dengan dirinya sendiri.

Tyas Effendi, Penulis Madah Puan: Menyalurkan Kemampuan Beraksara untuk Pamit

Tyas Effendi, Penulis Madah Puan.

 

Menambah Medium Bercerita

Melihat respon yang besar terhadap Madah Puan, Tyas kemudian membuka sesi bercerita melalui direct message di Instagram, chat bahkan mengajak bertemu. Cara inilah yang paling dirasa efektif untuk bercerita dan menyampaikan perasaan.

“Sehari ada lah 3-4 orang yang curhat sama aku. Aku merasa bertanggung jawab dengan project ini dan aku tetap mendengarkan cerita mereka. Aku sudah melakukan ini dan aku gak boleh melakukannya setengah-setengah,” cerita Tyas.

Hal lain yang tidak pernah disangka oleh Tyas adalah permintaan dari pengikut Madah Puan yang menginginkan adanya medium lain untuk bercerita. Pilihannya jatuh kepada totebag dan kaos. Namun, ia tidak pernah menjadikan ini sebagai bisnis, melainkan sebagai medium untuk menyebarkan ide tentang perpisahan dan pamit. Ia juga melihat ini sebagai cara Tuhan untuk mendekatkan Madah Puan dengan orang yang merasakan hal serupa.

 

Hobi yang Bermanfaat untuk Orang Lain

Menulis, fotografi dan design adalah tiga hal yang Tyas sukai. Melalui Madah Puan, ia mencoba menyalurkan ketiga hobinya tersebut, terutama dalam hobi menulisnya. Baginya, ketiganya saling berhubungan karena mendukung konten puisi yang akan disajikan. Design atau foto harus merepresentasikan tulisannya, begitu juga sebaliknya.

Hal yang dapat disyukuri Tyas adalah saat tahu Madah Puan bisa membawa manfaat bagi orang lain. Hal yang awalnya dianggap dari pemikiran sederhana dan hobi yang mendukung dasar pemikirannya, keduanya bisa membawa manfaat besar bagi orang-orang untuk menyampaikan ceritanya.

Tyas juga memberikan pesan bagi kamu yang ingin menyalurkan hobi ke dalam bentuk kreativitas, “jadikan apa yang kamu hobiin bermanfaat buat diri kamu dulu, jadi saat itu sudah impactful buat kamu, itu juga impactful buat orang lain. Aku awalnya hanya ingin menyalurkan apa yang aku rasakan, kemudian sisanya biarin Tuhan sama semesta aja yang membantu dan membawanya ke orang lain. Jadi saran terbesar aku adalah buatlah apa yang kamu suka bermanfaat buat diri kamu, baru ke orang lain,” tutup Tyas.

Madah Puan: Menyalurkan Kemampuan Beraksara untuk Pamit

1+

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *