Masihkah Radio Dicintai Millennials?

Masihkah Radio Dicintai Millennials? - young on top

Selamat Hari Radio Nasional! Kamu tau gak YOTers, kalo tanggal 11 September ini juga diperingati sebagai hari lahir Radio Republik Indonesia (RRI) yang didirikan pada 11 September 1945. Singkatnya, radio saat itu menjadi sumber informasi pasca Indonesia merdeka. Dilansir dari situs KPI, orang-orang yang pernah aktif di radio pada masa penjajahan Jepang akhirnya menyadari bahwa radio merupakan alat yang diperlukan pemerintah Republik Indonesia untuk berkomunikasi dan memberi tuntutan kepada rakyat mengenai apa yang harus dilakukan. Hingga akhirnya diputuskan untuk membentuk Persatuan Radio Republik Indonesia sebagai alat komunikasi dengan rakyat.

Kalo masih banyak yang mengira bahwa radio mulai ditinggalkan oleh masyarakat, nyatanya engga kok. Dari survey yang dilakukan oleh Nielsen Radio Audience Measurement pada Kuartal III 2016, penetrasi media radio masih tergolong besar yaitu sebesar 38% atau sekitar 20 juta orang di Indonesia masih mendengarkan radio, gak jauh dengan penetrasi internet yaitu sebesar 40%.

Untuk lebih lengkapnya, kamu bisa liat infografis ini:

Infografis Radio - Masihkah Radio Dicintai Millennials? - young on top

Infografis penetrasi radio. Sumber data: Nielsen.

 

Kenapa Radio Masih Bertahan Sampai Sekarang?

Masih diminatinya radio gak terlepas dari kekuatan yang dimilikinya. Triantoro dalam bukunya yang berjudul Broadcasting Radio: Panduan Teori dan Praktik menjelaskan bahwa kekuatan radio terletak pada bunyinya. Dimana sumber bunyi di radio dibedakan menjadi tiga, yaitu: musik, voice/words dari penyiar dan special effect yang biasa dipakai saat iklan atau acara di radio.

Terus, kenapa ya radio tuh masih diminati sampai sekarang? Hal itu gak terlepas dari keunggulan radio, yaitu:

  1. Sifat radio yang portable dan mobile, alias bisa dibawa kemana-mana, jadi gampang buat dengerinnya. Apalagi sekarang radio juga bisa didengarkan di smartphone.
  2. Berpotensi membidik khalayak yang spesifik, yang sesuai dengan kebutuhannya. Artinya radio mampu untuk fokus pada pendengar berdasarkan demografisnya.
  3. Bersifat instrutif, artinya radio memanfaatkan gelombang udara dalam proses penyiaran. Hal ini berhubungan dengan kemampuan radio untuk menembus ruang manapun yang tidak bisa dijangkau oleh media lain.
  4. Bersifat fleksibel, yang meliputi proses menciptakan program sederhana dengan cepat, disiarkan saat itu juga, mengirim pesan dengan cepat dan mempu mengadakan perubahan dengan cepat.
  5. Bersifat sederhana, yang tampak dari proses pengoperasiannya, pengelolaannya dan cara mengisi radio yang mudah.

Nah kekuatan dan keunggulan itulah yang membuat radio masih diminati meskipun saat ini podcast, yang mampu menyajikan konten audio secara on-demand telah banyak bermunculan. Siaran radio yang tidak dapat diulang, justru menjadi kekuatan tersendiri bagi radio. Justru membuat para pendengarnya jadi menantikan program radio favorit mereka.

 

Radio Jadi Tempat Mengembangkan Skill

Minat millennials terhadap radio sendiri terbukti dengan masih adanya millennials yang berkarir di radio. Di antaranya adalah Wulan Fitria dan Aria Aji Kusuma. Wulan bercerita kalo berkarir di radio gak terlepas dari passion-nya di bidang public speaking sejak SMP. Makanya, selesai lulus kuliah dari jurusan komunikasi, ia memutuskan untuk berkarir di radio karena bisa mengembangkan kemampuan public speaking-nya dan radio juga jadi media bagi dirinya untuk berekspresi. Gak hanya itu, radio juga membuka kesempatan baginya untuk bertemu orang-orang baru.

Bagi Wulan, radio masih mendapatkan hati di masyarakat karena gak terlepas dari berbagai kelebihannya yang gak dimiliki oleh sumber informasi lainnya. Lewat radio, masyarakat bisa mendapatkan informasi terkini seputar musik dan juga bisa request lagu sekaligus kirim salam, “radio bisa menyatukan orang yang sudah lama jauh. Radio juga bisa memberikan rasa kesenangan, kepuasan tersendiri ketika salam kamu dibacain dan request-an lagunya diputerin sama penyiarnya. Ini yang masih jadi kekuatan radio,” ucap Wulan yang telah berkarir di radio selama 2 tahun di POP FM Jakarta.

Masihkah Radio Dicintai Millennials? - young on top

Wulan Fitria: radio untuk mengembangkan skill public speaking

Bagi Aria Aji Kusuma, penyiar radio Dakta 107FM yang juga merupakan Vice President YOT Bekasi batch 4 mengatakan bahwa siaran di radio memiliki adrenalin tersendiri, “mungkin kamu akan sulit ketika kamu ngomong sama orang yang gak kamu kenal. Tapi kamu akan lebih sulit ketika kamu ngobrol di depan mic, di depan pendengar kamu yang kamu sendiri gak tau berapa banyak, tapi kamu seakan punya tanggung jawab. Nah itu yang memacu diri aku untuk lebih punya attitude dalam berbicara,” cerita Aji.

Aji juga menambahkan kenapa masyarakat masih harus mendengarkan radio. Karena, menurutnya radio adalah media yang unik dan memiliki berbagai kelebihan yang tidak bisa didapatkan dari media lainnya. Di antaranya, radio dapat membangun theater of mind dan radio juga menyajikan kejutan-kejutan kecil di dalamnya, “gak sengaja lagu yang suka diputer atau lagu yang mantan kamu suka diputer, akhirnya jadi flashback,” tutup Aji.

Masihkah Radio Dicintai Millennials? - young on top

Aria Aji Kusuma: siaran radio punya adrenalin tersendiri

 

Masih Adakah Radio di Hati Millennials?

Jawabannya tentu aja masih, bukti dari infografis di atas diperkuat sama pernyataan millennials di bawah ini yang bilang kalo mereka masih suka dengerin radio. Mereka punya latar belakang tersendiri saat ditanya kenapa masih suka mendengarkan radio.

Tristin Yudianingrum, yang rutin mendengarkan radio di pagi hari, mengatakan kalau radio punya kekuatan tersendiri yang membuat dirinya masih senang mendengarkan radio dan membuat radio akan terus berjaya meskipun saat ini podcast juga menjadi salah satu sumber informasi yang diminati millennials.

“Kalo kamu pernah request lagu di radio, terus diputerin lagunya dan nama kamu disebut, itu kayak kesenangan tersendiri dan jadi bonding antara kamu sama penyiarnya. Beda sama podcast yang cuma satu arah. Radio juga ngebahas berbagai topik dari berbagai sudut pandang dalam satu kali siaran, beda dengan podcast yang di satu episode hanya membahas satu topik dalam satu sudut pandang,” ujar Tristin. Selain itu, yang ia suka dari radio adalah karena lewat radio, ia bisa mendapatkan informasi terkini.

Begitu juga dengan Salma Nabila yang mengatakan kalau radio itu sudah jadi teman dalam hidupnya melalui lagu-lagu yang diputar. Selain itu, kedekatan antar penyiar dan pendengar juga jadi kekuatan radio, “misalnya penyiarnya lempar pertanyaan dan minta pendapat kita gitu sebagai pendengarnya. Terus pendapat kita dibacain sama announcer-nya, seneng banget gak sih!”

Elvina Tri Audya juga ngasih pendapatnya tentang kenapa dia masih mendengarkan radio. Bagi Elvina, program radio yang bersifat sekali dengar justru menjadi kekuatan dan keunikan radio, “kalo kata orang-orang radio itu kelemahannya karena hanya sekali dengar, justru menurutku itu yang jadi kekuatannya. Itu yang bikin aku selalu nungguin program radio favoritku,” ujar Elvina.

Nah, kalo kamu sendiri masih suka dengerin radio gak? Apa alasan kamu masih mendengarkan radio? Share dong cerita seru kamu di kolom komen ya!

1+

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *