Desainer Muda Indonesia Pamerkan Kaftan di London

Desainer Muda Indonesia Pamerkan Kaftan di London

LONDON – Anniesa Hasibuan, perancang muda dan pendiri biro perjalanan First Travel, memukau sekitar seribu undangan dan pengunjung Westlife, mal terbesar di London Barat, saat menampilkan sepuluh kaftan.

Peragaan busana muslimah pada Sabtu, 21 Maret 2015, siang waktu setempat itu digelar Women's Growth & Success Foundation, perkumpulan perempuan profesional muslim di ibu kota Inggris yang misinya mempromosikan wajah Islam ramah bagi masyarakat Eropa.

Ada sepuluh perancang gaun muslimah yang tampil dalam peragaan yang dibagi dalam tiga sesi itu. Mereka perancang dari Kuwait, Saudi Arabia, Palestina, Yaman, Libanon, Qatar, dan Indonesia. Hanya Anniesa yang baru kali itu tampil memamerkan karyanya. "Pekerjaan inti saya pengusaha travel," kata perempuan 28 tahun yang tinggal di Sentul, Jawa Barat, itu.

Anniesa bercerita ia nekat menyanggupi tawaran panitia memamerkan pakaian muslimah rancangannya meski waktu persiapan hanya sebulan. "Saya suka menggambar desain sejak kecil dan membuat pakaian untuk keluarga dan kenalan," katanya.

Ia bahkan tak mengeyam studi sekolah desain. Anniesa drop-out dari Jurusan Akuntansi Universitas Indonesia di semeter tiga pada 2008 karena tak punya uang. Usaha ayahnya, Azwidarsyah Hasibuan, di bidang batu bara bangkrut sebelum meninggal di tahun yang sama. Lulusan SMA Kartika Sari Lenteng Agung ini menikah dengan Andika Surachman, temannya di SMP 8 Depok yang berdagang pulsa untuk mencukupi kebutuhan kuliahnya di Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Bersama Andika ini, Anniesa lalu merintis usaha perjalanan umroh pada 2008. Kini First Travel telah memberangkatan setidaknya 70.000 jamaah. Andika mendorong istrinya mengembangkan bakat desain dan menjadikannya bisnis.

Dua tahun lalu ketika sedang liburan di London mereka bertemu Usya Suharjono, orang Indonesia yang 30 tahun tinggal di negeri Ratu Elizabeth itu sebagai pemilik restoran Nusa Dua. Usya adalah penyelenggara "Hallo Indonesia" di Trafalgar Square sehingga kenal pejabat London dan banyak organisasi di sana, seperti Women's Growth yang didirikan dan dipimpin Zainab Al Immam asal Saudi Arabia, pemilik jaringan usaha A&Z.

Pakaian yang ditampilkan Anniesa beda dibandingkan dengan busana desainer Timur Tengah lain yang lebih terbuka. Rancangan Anniesa berbahan beludru, satin, dengan payet dari kerudung hingga mata hati dipadu dengan batik. "Saya tampilkan ini karena Timur Tengah itu kan kesannya glamor," katanya.

Di sesi akhir, karena sambutan meriah penonton untuk rancangan Anniesa, ia yang awalnya tampil di urutan 8 digeser menjadi penutup. Seusai acara, stand-nya diserbu pengunjung yang bertanya dan berniat membeli baju-bajunya.

Anniesa mematok satu gaun di stand 1.000 pounds atau Rp 20 juta. Sementara untuk gaun yang ditampilkan di catwalk harganya Rp 50 juta. "Tadi ada yang menawar tapi saya tak beri karena mau saya taruh di museum butik saya," katanya. "Yang memesan mesti menunggu sebulan."

Selepas acara, stasiun televisi dari Kuwait dan Yaman antre mewawancarainya. Mereka bertanya seputar inspirasi Anniesa merancang gaun-gaunnya. "Setelah London sudah ada yang menawari pameran di Dubai," katanya. "Saya tak menyangka mendapat sambutan seperti ini."

Sumber :
http://m.tempo.co/read/news/2015/03/28/215653670/Desainer-Muda-Indonesia-Pamerkan-Kaftan-di-London

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *