Ketika Rumput Laut Disulap Jadi Mie

Ketika Rumput Laut Disulap Jadi Mie

Bila pada umumnya mie dibuat dari tepung terigu, maka mie asal Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua ini justru berbahan dasar dari rumput laut. Menurut sang pembuat, Yubelina Rumbino mie rumput laut ini masih sangat baru dan merupakan satu-satunya dan yang pertama di Indonesia.

Yubelina menceritakan ide awal pembuatan mie rumput laut ini muncul saat banyak rumput laut yang harganya terlalu murah saat panen melimpah di wilayah pesisir Kepulauan Yapen. Kepulauan Yapen sendiri merupakan salah satu sentra produksi rumput laut terbesar di Papua. 

"Banyak sekali rumput laut daripada menumpuk kenapa tidak dibuat jenis makanan yang bisa diolah dan dijual, itu sekitar tahun 4 tahun lalu" kata Yubelina kepada detikFinance saat ditemui di sebuah pameran pangan di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (6/6/2015).

Ia mengungkapkan proses pembuatan mie rumput laut ini tidaklah sulit dan bisa dilakukan secara rumahan bahkan tanpa mesin. 

"Prosesnya hanya beberapa tahap. Prosesnya ambil rumput laut setelah dikeringkan kemudian direndam lagi untuk kemudian dikeringkan lagi. Baru setelah itu direbus hingga menjadi bubur rumput laut untuk dibuat jadi adonan dasar mie. Bubur rumput laut inilah yang kemudian dicampur dengan beberapa bahan untuk kemudian dibentuk menjadi mie padat. Ada tambahan telur, sedikit tepung terigu, dan garam," tuturnya.

Yebelina mengatakan, setiap hari dirinya paling tidak membutuhkan 10 kg bubur rumput laut untuk dibuat menjadi 20 sampai 30 bungkus mie rumput laut. "Satu bungkus isinya 400 gram," tambahnya.

Per bungkusnya Yebelina menjjual seharga Rp 20.000. Jaringan listrik yang masih terbatas di Papua membuat produksi mie rumput lautnya masih sangat terbatas. 

"Dalam sehari kita bisa produksi sampai 150 bungkus dalam seharinya. Hanya dibantu karyawan satu orang, tapi jumlah produksinya sangat bergantung pada sinar matahari untuk mengeringkan rumput laut sebelum direbus jadi bubur, kalau pakai mesin pengering daya listriknya tidak akan cukup" keluhnya.

Soal pemasaran ia bahkan kewalahan melayani permintaan dari berbagai daerah. Ia juga mengungkapkan jika dibandingkan dengan mie telor atau mie instan yang beredar di pasaran, mie rumput laut produksinya sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet dan jauh lebih kenyal saat dimasak.

"Ini sekarang jadi oleh-oleh paling laris di daerah saya, karena memang harganya murah, dan sekarang mulai ramai karena pariwisata jadi banyak orang pesan sebagai oleh-oleh, yang pasti sudah sampai Surabaya dan Jakarta, omset sebulan sudah Rp 8 juta. Kalau mie rumput laut tetap sama, memang punya kekenyalan tersendiri, dan pastinya lebih sehat," katanya.

Sumber: http://finance.detik.com/read/2015/06/06/172541/2935269/480/wanita-papua-ini-sulap-rumput-laut-jadi-mie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *