Terangi Pulau Terpencil Raja Ampat, Mahasiswa UGM Raih Award Internasional

Terangi Pulau Terpencil Raja Ampat

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Agam Budi Satria, meraih penghargaan internasional dalam US Federation UNESCO Clubs (USFUCA) Worldwide Multimedia Competition 2015. Dia meraih juara kedua karena berhasil mengangkat program Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

Agam membuat dokumentasi video mengenai masyarakat di salah satu pulau terpencil di Kabupaten Raja Ampat, yakni Pulau Manyaifun. Di tempat itu, Agam bersama 29 mahasiswa UGM lainnya mengikuti program KKN PPM selama 2 bulan, pada bulan Juli-Agustus 2014 tinggal di Pulau Manyaifun.

Pada kompetisi itu, Agam membuat video berdurasi 3 menit mengenai program pemasangan panel surya atau penerangan dengan memanfaatkan tenaga matahari di Pulau Manyaifun. Sebab di pulau tersebut tidak ada aliran listrik. Bila warga menggunakan genset biaya akan mahal sekali.

Menurutnya dalam kompetisi itu peserta ditantang dalam hal sumber energi terbarukan melalui pemasangan panel surya di Pulau Manyaifun. Energi terbarukan itu bisa dimanfaatkan masyarakat yang tinggal di pulau untuk berbagai kegiatan seperti pendidikan, perikanan/nelayan, kesehatan dan lain-lain.

"Panel surya di sana cukup penting karena pasokan listrik sangat terbatas. Kebetulan tema kompetisi ini adalah Year of Light. Ide bisa dalam bentuk essay, video pendek 3 menit, presentasi dengan power point atau karya seni lainnya. Saya membuat dalam bentuk video," kata Agam di Kampus UGM saat ditemui detikcom Senin (20/4/2015).

Menurutnya kompetisi tersebut diikuti ratusan pemuda dari 78 negara. Kompetisi dibagi dalam 3 kategori, yaitu umur 11-15 tahun, 16-20 tahun dan 20-24 tahun. Mereka ditantang untuk berinovasi dalam memanfaatkan teknologi sustainable berbasis cahaya yang dapat digunakan bagi pendidikan, pertanian, kesehatan maupun energi.

Kompetisi ini dibuka 17 November 2014 hingga 25 Januari 2015. Pada tahap penjurian dilakukan penilaian berdasarkan relevansi, kreativitas, orisinalitas, pengembangan, audiensi, serta kohesi. Setelah itu, pada 30 Maret 2015 UNESCO mengumumkan Top Nine Winners.

"Saya memperoleh juara kedua. Juara pertama diraih mahasiswa dari universitas di Iran. Sedangkan yang ketiga diraih dari Indonesia," papar Agam yang merupakan mahasiswa jurusan Farmasi ini.

Dia mengatakan pemasangan panel surya di Pulau Manyaifun itu juga melibatkan warga setempat. Adanya alat penerangan panel surya itu bisa mendukung program kesuksesan program rumah belajar yang dilakukan mahasiswa KKN. Sebab di pulau tersebut hanya ada satu sekolah swasta yakni SD yang sempat ditinggal oleh tenaga pengajarnya.

"Adanya rumah belajar dengan penerangan panel surya itu dapat dimanfaatkan semua warga terutama anak-anak usia sekolah. Mereka sangat terbantu dalam belajar," kata Agam yang didampingi rekannya Fitria Ananta dan Diana Puspita.

Fitria menambahkan rata-rata anak-anak hanya berpendidikan SD karena kalau mau meneruskan jenjang lebih tinggi harus pindah ke pulau lain. Rumah belajar didirikan di dekat dermaga di pulau itu. Penerangan panel surya selain di rumah belajar juga dibuat di sekitar dermaga dan rumah ibabah.

"Kita membantu pengadaan panel surya. Sedangkan warga membantu membuatkan rumah belajar baik membantu tenaga dan kebutuhan lain seperti kayu," kata Fitria.

Sebagai bentuk apresiasi dari UNESCO-World Genesis Foundation, Agam mendapatkan kesempatan untuk menghadiri perkemahan musim panas, UNESCO Center for Peace Summer Cam, yang akan diselenggarakan di Maryland, AS selama 2 minggu, yaitu 19 Juli-1 Agustus 2015 sekaligus akan ada Special Ceremony untuk para pemenang. 

Sumber: http://news.detik.com/berita/2942545/terangi-pulau-terpencil-raja-ampat-mahasiswa-ugm-raih-award-internasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *