Surabaya Kini Punya Swat

Surabaya Kini Punya Swat

Sebagai kota metropolitan, tentu saja Surabaya menghadapi masalah sampah. Bukan hal mudah menanganinya, terutama terkait truk sampah siluman. Pemkot memiliki SWAT. Apa itu?

SWAT kepanjangan dari Solid Waste Application Transportation. Aplikasi ini dipakai untuk memantau proses pengambilan sampah dari berbagai titik hingga sampai ke tempat pembuangan akhir di Benowo, Surabaya Barat.

Inovasi yang digagas Dinas Kebersihan dan Pertamanan ini menjadi yang pertama di Indonesia dan menjadi percontohan kota lain. Penerapan sistem ini sempat dikeluhkan sejumlah sopir pengangkut sampah karena dianggap terlalu rumit.

SWAT memantau mulai dari jenis kendaraan, beban muatan sampah, hingga pemakaian bahan bakar minyak truk pengangkut sampah.

"Tentu dengan monitoring melalui online dan akurat, akan membantu manajemen pengelolaan sampah di kota ini lebih baik lagi," kata Kepala DKP Chalid Buhari kepada detikcom belum lama ini.

Selain memantau sampah, kata Chalid, aplikasi SWAT mengontrol para petugas pengangkut sampah agar lebih disiplin dan cepat dalam membawa sampah ke tempat pembuangan akhir.

Setelah truk pengangkut sampah sampai di tempat pembuangan akhir, mereka harus menuju jembatan timbang untuk mengetahui muatan sampah. Setelah itu, si sopir truk wajib membawa kartu pengangkut sampah menuju loket untuk diperiksa.

Bila sopir tidak membawa kartus khusus itu, maka secara otomatis tidak bisa masuk ke tempat pembuangan akhir untuk membuang sampah.

Mereka wajib mengisi identitas dari truk yang dibawa seperti nomor polisi, nama sopir, dan muatan sampah selanjutnya tinggal discan pada barcode.

"Jika cocok maka mereka diperbolehkan masuk," katanya.

Dalam satu hari ada lebih dari 400 truk milik DKP maupun swasta yang mengangkut sampah datang menuju TPA Benowo. Truk-truk itu beroperasi dari pukul 05.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB.

SWAT diperlukan karena sering kali ada truk yang tidak terdaftar masuk ke dalam tempat pembuangan akhir. Dengan sistem ini, tidak ada lagi truk siluman yang tiba-tiba masuk untuk membuang sampah.

"Truk sampah di luar yang kita kendalikan tidak bisa sluman-slumun (asal masuk dan keluar) masuk buang sampah lagi," katanya.

Memang aplikasi SWAT ini sebagai pilot project dalam monitoring sampah ini tentunya ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. Namun setidaknya sistem SWAT ini mempermudah pemerintah kota untuk mengontrol sampah di kota.

"Aplikasi SWAT kini menjadi percontohan kota lain dalam pengelolaan sampah lebih baik," kata Chalid. 

Sumber: http://news.detik.com/berita/2944760/ada-swat-di-surabaya-tugas-nya-cegah-truk-sampah-siluman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *