[SHORT STORY] Enough or Not Enough?

https://id.pinterest.com/pin/566398090640057844/

ENOUGH OR NOT ENOUGH?
Story By
Ismi Nur Wulandari

Aku di sini lagi,
di sebuah halte bus daerah Sudirman, menunggu deraian air hujan berhenti membasahi bumi.
Untuk kesekian kalinya, dengan agenda yang sama, menghadiri wawancara dari sebuah perusahaan yang mencoba merekrut pegawai baru.

Aku mengibaskan beberapa rintik air yang tertempel di kemeja putih yang ku padukan dengan setelan rok dan cardigan hitam formal – tipikal seseorang yang sedang mencari pekerjaan – berharap akan membuat kemejaku yang sedikit basah ini kering seketika karena aku masih harus menghadiri satu wawancara kerja lagi setelah ini. Namun, semesta seolah paham bagaimana caranya mengacau hidupku yang kata orang sudah kacau ini.

Aku melirik jam tangan murahan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Pukul 12:37, kira-kira 23 menit lagi sebelum wawancara kedua ku untuk hari ini, tapi sepertinya hujan tidak memberikan tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat.

Aku membuang napas dengan kasar, mulai merasa kebosanan dengan acara menunggu hujan reda di bawah halte bis sendirian. Tanpa sadar, aku menatap lurus ke depan, ke arah mobil-mobil mewah yang berlalu lalang di tengah genangan air hujan.

Aneh, kenapa mereka bergerak dengan cepat? Kenapa yang ada di depanku seolah melaju, tapi waktu di sekelilingku seolah melambat.

Sama seperti orang-orang.

Mereka melangkah cepat, mencapai sesuatu hal yang hebat duluan. Sementara aku, masih menapak pada jalan ketidakpastian.

Aku tersadar dari lamunanku ketika sebuah mobil melaju tepat di depan halte, mencipratkan genangan air hujan di jalanan, membuat rok hingga kaus kaki dan sepatu pantofel hitam hasil pinjaman ku basah dan tak karuan.

Aku mendengus, ingin marah rasanya pada pengemudi tak tahu aturan itu. Tapi mau bagaimana lagi, marah-marah pun tak akan membuat rok span ku kering dan kembali bersih kan?

Lagi-lagi aku hanya menghembuskan napas kasar, pasrah akan keadaan. Seperti nya aku terpaksa harus mendatangi wawancara kedua ini dalam keadaan seperti ini. Daripada tidak sama sekali.

Sungguh, tidak bisakah hariku lebih buruk lagi dari ini?

————–

Hari lain, wawancara kerja yang kesekian, juga mungkin penolakan yang kesekian

Aku semakin terbiasa menemukan kalimat-kalimat penolakan yang dirangkai sebaik mungkin oleh HRD perusahaan-perusahaan itu agar tak menyakiti pelamar kerja. Meskipun awalnya hal itu menyakitkan, semakin ke sini kalimat itu seperti tak ada artinya bagiku.

Mati Rasa

Mungkin bisa dikatakan seperti itu. Setiap surel yang masuk, dan aku menemukan lagi-lagi kalimat itu, aku hanya akan berkata, “Oke.. here we go again”. Kalimat-kalimat itu sudah seperti makanan sehari-hari bagiku.

Tapi, bukan berarti aku menyerah.

Pagi ini aku pergi sekitar pukul delapan pagi. wawancaraku pukul 9, jika kalian ingin tahu.

Saat tengah sibuk mengenakan sepatu pantofelku di depan pintu, aku mendapati Ibuku tengah mengobrol dengan tetangga yang tinggal tepat di depan rumah kami.

Sepertinya mereka sama-sama baru selesai menyapu halaman, dilihat dari bagaimana mereka masih sama-sama memegang sapu masing-masing di tangan.

“Berangkat kerja, Ra?”

Aku yang tengah memasang sepatu mendongak, tersenyum kikuk hendak menjawab pertanyaan tetangga depan rumah yang sering kusapa Bulek Sarmi itu.

Belum sempat aku membuka mulut, Ibu tau-tau sudah menyambar pertanyaan Bulek Sarmi dengan kalimat yang… sebetulnya, aku tak perlu terlalu sensitif mendengarnya. Hanya saja, perasaanku tak bisa di bohongi. Aku sedikit terluka mendengar kalimatnya.

“Kerja apa to, Yu. Udah dua tahun lulus kuliah, katanya cari kerja sana-sini, tapi sampe sekarang masih nggak dapet-dapet.”

Begitu kata Ibuku. Lagi-lagi aku hanya tersenyum, penuh kepalsuan untuk menutupi sakit hatiku.

Iyo? Oalah…. Cepet dapet kerja yo Ra,” ucap Bulek Sarmi, yang kutanggapi dengan senyuman, dan perkataan lirih mengaminkan doa baiknya. “Kamu inget anaknya bulek ndak? Si Zidan, yang sepantaran sama kamu itu? Dia sekarang udah kerja di perusahaan tambang luar lho.”

Sungguh, sebuah informasi yang tidak aku perlukan.

Iyo, Yu?”

Bukan. Itu tentu bukan aku yg merespon. Ibuku terdengar excited mendengar informasi tentang si Zidan yang bekerja di perusahaan tambang milik Luar negeri itu.

Bulek Sarmi pun melanjutkan cerita singkat tentang sang putra, tentang Zidan yang kini digaji 25 juta, dan berencana membelikan orang tuanya mobil mahal.

“Weh, mantep yo. Dhara lho udah 23 tahun, tapi masih gak bisa nyari duit sendiri. Padahal aku dulu 14 tahun udah merantau ke Jakarta, bela-belain jadi babu sebelum ketemu bapaknya Dhara.”

Oke, apa Ibu berharap aku juga menjadi Asiten Rumah Tangga sekrang? Mau berapa banyak lagi aku ditikam kalimat menyakitkan pagi ini?

Setelahnya, aku buru-buru berpamitan, menyalimi Ibuku, dan juga Bulek Sarmi. Siapa tahu dengan menyalami para orang tua, aku mendapatkan berkah di wawancara kerjaku kali ini.

Beruntung aku sedang buru-buru, jadi dengan mudah aku menghindari kalimat-kalimat yang mungkin menurut mereka biasa saja, tapi itu justru lebih menyakitkan ketimbang ditolak kerja untuk kesekian ratus kalinya.

—————

There’s nothing last forever

Kupikir, saat di mana aku ke sana dan ke mari mencari pekerjaan akan selamanya aku rasakan. Ternyata aku hanya butuh sedikit bersabar, dan terus mengambil kesempatan yang ada di depan mataku. Tak peduli dengan penolakan, dan kegagalan, asalkan tidak menyarah, akhirnya aku pun di sini.

Duduk di sebuah kubikel khas karyawan kantoran yang sibuk dengan komputer layar datar di depannya.

Jika kalian menebak akhirnya aku dapat pekerjaan, kalian benar.

Ingat interview terakhir yang aku datangi setelah menerima kalimat menyayat hati dari Ibuku? Aku diterima, sebagai seorang staff di bagian digital marketing sebuah perusahaan e-commerce.

Waktu terus berjalan, dan tentu saja banyak hal-hal yang terus berubah. Entah perubahan besar, atau kecil

Aku merasa, hidupku menjadi lebih baik setelah mendapat pekerjaan. Sebuah perubahan besar dari seorang pengangguran, ke seorang karyawan kantoran. Meskipun setelahnya tak ada lagi perubahan-perubahan besar yang terjadi, tapi aku selalu bersyukur dengan perubahan-perubahan kecil yang ku alami selama bekerja di perusahaan e-commerce ini.

Ya, setidaknya aku tak lagi mendapat kalimat menyakitkan perihal aku yang sudah berumur, tapi belum bisa mengasilkan uang.

Aku menghasilkan uang sekarang, dan uang itu juga kugunakan untuk kehidupan sehari-hari, membantu orang tuaku memenuhi kebutuhan rumah, dan juga menyisihkan sedikit untuk keperluan mendesak lain.

Aku tak perlu lagi meminta kepada Ayah hanya untuk mengisi paket data untuk ponselku, atau meminta uang sekedar untuk membeli permen di warung.

Siapa bilang orang dewasa tidak perlu permen, hah? terkadang kita perlu yang manis-manis, bukan? Di kala hidup terasa pahit hehe

“Terimakasih ya, Pak.”

Aku menyerahkan selembar uang dua puluh ribu pada supir ojek online yang sore ini mengantarku pulang dari kantor. Setelah supir itu melesat pergi dari depan gerbang usang rumahku, aku baru menyadari sebuah sedan, Honda Brio, terparkir di depan rumah.

Tak mau ambil pusing perihal milik siapa mobil itu, aku pun masuk, tak lupa memberi salam ke pada orang-orang di rumah, atau mungkin malaikat yang ada di dalam sana kalau tak ada orang di dalam.

Itu kata guru mengajiku dulu. “Tetaplah berikan salam jika rumahmu kosong, karena malaikat di dalam nya yang akan menjawab dan memberkahimu.”

Aku menyadari ada beberapa tamu ketika mendengar jawaban salam yang sedikit ramai. Saat aku masuk, barulah aku melihat siapa-siapa saja di dalam sana.

Ibu, Ayah, adikku yang justru sibuk main ponselnya – kemungkinan bermain game online. Dia sangat menggilai hal itu – dan juga paman dan bibiku dari luar kota bersama dua anak kembarnya yang memiliki usia tak jauh dari adiku.

Setelah menyalami semua orang-orang tua di ruangan itu, aku pamit untuk ke kamarku terlebih dulu, membersihkan diri barangkali, sebelum ikut menjamu tamu yang datang.

Kudengar mereka akan menginap beberapa hari karena ada acara yang harus mereka hadiri – pernikah salah satu keluarga dari pihak pamanku

“Bibi denger kamu udah kerja Ra?” tanya Bibiku. Kami sekrang sedang bersantai di ruang tengah, menonton acara TV bersama yang sebetulnya tak pernah aku lakukan. Biasanya aku akan lebih memilih mendekam di kamar, menulis, atau menonton drama asia favoritku.

Tapi karena ini ada keluarga berkunjung, aku juga harus ikut menimbrung acara nonton bersama ini. Kata Ibu dan Ayah, tidak baik jika keluarga berkunjung, kita justru sibuk sendiri di kamar. setidaknya, keluar dan temani mereka duduk bersama.

Menghargai mereka yang sudah mau berkunjung, begitu katanya.

“Iya Bi, alhamdulillah.”

“Kerja di mana kalo Bibi boleh tau?”

“Di perusahaan e-commerce, Bi.”

Kulihat Bibiku hanya mengangguk-angguk mendengar responku akan pertanyaanya. “Bagus deh kalo gitu. Dibetah-betahin, Ra. Kerja di perusahaan tu kadang ada aja slek nya ama temen sekantor, atau mungkin sama boss nya.” Kini giliran aku yang mengangguk-angguk, membenarkan semua kalimat yang dikatakan Bibiku. “Tapi ya kan namanya kerja ya. Gak ada masalah bukan kerja namanya, bukan hidup.” Pungkasnya, diakhiri kekehan, yang membuatku ikut terkekeh bersamanya, menyetujui ucapannya lagi dan lagi.

“Ngomong-ngomong, udah ada calon belum ni? Kan udah dapet kerja, habis ini mau ngapain lagi coba kan, kalau nggak nikah? Iya nggak?”

Aku hanya menampilkan cengiranku mendengar penuturan Bibiku. Ayolah, aku belum lama mendapatkan pekerjaan.

“Itulah, Sin.” Ibuku bersuara. “Padahal mbak tu udah pengen banget ngegendong cucu. Temen-temen mbak udah pada punya cucuk. Temen-temen dia juga udah pada banyak yang nikah, tapi Dhara bawa calon aja belum. Padahalkan  umur segini tu emang udah waktu yang pas buat nikah, ya kan?”

“Tuh Ra, Ibumu pengen cucuk.” Bibi mengatakannya sembari tertawa menggodaku.

Dan aku, tentu saja hanya memberikan senyum tipis yang terkesan sangat enggan mendengar semua itu.

Aku membuang napas kasar tanpa sepengetahuan mereka yang ada di ruang ini.

Sungguh, kenapa semua seolah tak pernah terasa cukup di mata orang tuaku? Aku belum lama mendapat kerja, dan sekarang mereka mencibir ku perihal aku yang belum menikah, tidak seperti teman-temanku di luar sana yang sudah menikah bahkan sudah punya momongan.

Tak sekali dua kali mereka membicarakan hal ini, sudah sering bahkan sebelum aku mendapat pekerjaan hanya karena mereka mendapatkan kabar teman-temanku menikah.

Dan, yang paling parah, begini kata mereka dulu. “Liat lah! Kamu ditinggal temen-temenmu nikah semua. Kamu nya malah belum kerja.”

Meskipun aku tak terlalu ambil pusing dengan kalimatnya, tentu saja itu menyakitkan. Aku hanya butuh dorongan perihal apa yang tengah aku lakukan sekarang.

Aku hanya butuh mereka percaya pada proses yang tengan aku jalankan. Jika Tuhan mengijinkan, semua pasti ada jalan, asal aku tak menyerah duluan.

Tapi, mereka seolah enggan untuk peduli soal itu. yang mereka pedulikan hanya kenapa anak mereka tak seperti anak tetangga.

Tak peduli apa yang ku lakukan, sejauh apapun langkah yang telah ku  jangkah, sebesar apapun hal yang telah kugapai, kata cukup tak pernah benar-benar berwujud bagi mereka.

Meskipun menyakitkan, dan membuatku merasa menjadi satu-satunya yang bisa menolongku tetap berdiri tegak di tengah semesta yang entah baik atau tidak ini, aku berusaha untuk tak peduli.

Cukup dengarkan, tak perlu dirasakan, apalagi dipikirkan. Melakukan apa yang cukup untuk diri ini karena aku adalah standar untuk diriku sendiri, bukan orang lain yang mungkin melampaui.

Berlari entah mengejar sesuatu atau tidak selalu berakhir dengan kata capek, kan?

Berjalan, sembari sesekali istirahat, meskipun lebih lama, ujung-ujunganya akan sampai juga.

Yang terpenting bukan kecepatannya, tapi bagaimana kita tidak menyerah untuk meraih tujuan yang sama.

FIN

 

 

 

Cover pic source by : https://id.pinterest.com/pin/566398090640057844/
Edit by : Ismi Nur Wulandari