[SHORT STORY] My First and Last Friend

My First & Last Friend

Cerpen oleh : Ismi Nur Wulandari

tw/cw : mention divorce, death of brain cancer

Disclaimmer:

This story is just a work of fiction, and is not aimed to offend anyone. If there’re some similarities in terms of location mentioned, name, or stories’ fragments, it’s fully just a coincidance. So, I hope you guys who read it can be a wise reader.

Last but not least.

Tolong dimaklumin kalau ceritanya agak cringe, karena ini cerita yang saya tulis buat tugas Bahasa Indonesia pas SMA

regards

Ismi

——–

Memiliki keluarga kaya bukan berarti memiliki segalanya. Bergelimang harta bukan berarti bahagia. Mungkin sebagian besar orang menganggap mereka akan bahagia jika mereka memiliki segalanya. Lalu, bagaimana denganku?

Namaku Jasslyne Hwang, seorang remaja 17 tahun yang bahkan lupa bagaimana rasanya bahagia.

Kenapa?

Orang tuaku bercerai sejak aku masih kecil dan sekarang aku hanya tinggal bersama ayah. Ya, aku memang masih memiliki orang tua meskipun mereka sudah berpisah, tapi aku merasa seperti tidak memiliki orang tua.

Ayah jarang di rumah, ia selalu melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, meskipun ia ada ia akan menghabiskan waktunya di kantor dan tidak mempedulikan aku. Ia hanya peduli bagaimana cara untuk menghidupiku dari penghasilannya sebagai CEO sebuah perusahaan ritel ternama di negaraku, sedangkan ibu, wanita itu jarang menghubungiku, sekedar menanyakan kabar mungkin? Oh, jangan harap. Saat aku menghubunginya ia hanya akan berkata “Maaf sayang ibu sedang sibuk. Nanti ibu hubungi lagi” dan menutupnya. Jahat? Itulah yang ku pikirkan.

Kehidupanku di  rumah tidak jauh berbeda dengan kehidupanku di sekolah. Aku tidak memiliki teman. Mereka menjauhiku karena mereka menganggapku gadis sombong dengan latar belakang keluarga yang berantakan. Oh lihatlah, bahkan mereka tak segan-segan membicarakan keluargaku.

“Hey! Apa kalian tahu? Ternyata Jasslyne adalah anak dari pemilik Spectra Corp.”

“Benarkah? Wah, dia pasti sangat kaya.”

Cih, gadis-gadis menyedihkan

“Tapi ku dengar orang tuanya bercerai sejak lama.”

“Pantas saja ia sangat menyebalkan. Ku rasa itu karena ia frustasi orang tuanya bercerai.”

Tau apa kalian tentang keluarga ku.

“Aku kasihan sekali padanya”

Aku tidak membutuhkan belas kasihanmu.

“Aku tidak menyukainya. Ia gadis yang sombong”

Terimakasih. Ku anggap itu pujian.

Ya, aku mendengar itu semua, tapi sungguh, aku tidak peduli.

Bell masuk berbunyi. Membuat para gadis-gadis menyedihkan tadi berhamburan menempati kursi mereka masing-masing.

Bersamaan dengan itu Ms. Kath memasuki kelas dengan seseorang di belakangnya. Kurasa ia murid baru?

“Morning class.” Ms. Kath mengucapkan salam dengan bahasa inggris. Ya, karena ini adalah kelas bahasa inggris.

Morning.”

“We have new friend here. So girl, please introduce your self.”

“Hay, my name is Allieson Park. You can call me Allie. Nice to meet you guys”

“Ok, Ellie. You can sit to the empty chair over there”

Oh tidak, apa Ms. Kath memintanya duduk di sebelahku? Ku mohon jangan, aku benci duduk berdua, tapi sayangnya itu satu-satu nya kursi kosong di kelas ini.

————————-

Aku tengah menikmati makan siangku di kantin sendirian. Ya, itulah keseharianku, Selalu sendiri. Mana ada yang mau duduk dengan bocah angkuh seperti aku.

Sebetulnya, aku membenci suasana ramai seperti ini. Mereka terlalu berisik hanya untuk antre mengambil makan siang mereka. Menurutku, mereka lebih terlihat seperti orang yang tidak pernah makan. Aku sangat malas pergi ke kantin, rasa lapar yang mengerogoti perutkulah yang mendorongku pergi ketempat ini.

“Boleh aku duduk di sini?”

Seseorang berdiri di depanku. Dapat kulihat anak baru itu berdiri sembari tersenyum ramah. Aku hanya menatapnya malas dan mengangguk mengiyakan.

Sejak saat itu Allie – anak baru itu – selalu berada di sekitar ku.

Saat makan siang di kantin, saat aku tengah membaca di perpustakaan, atau saat aku tengah bersantai di bawah pohon menikmati keindahan taman sekolahku ia juga selalu di sana, bahkan saat pulang sekolah pun ia tetap mengikutiku. Ditambah lagi saat ia mengetahui bahwa rumah kami berdekatan, hanya berjarak satu rumah. Ia jadi sering berkunjung ke rumahku.

Seperti yang kalian kira, aku selalu tak acuh pada kehadirannya, bahkan aku tak peduli dengan apa yang ia lakukan. Ia sering mengajakku berbicara, tapi aku hanya diam saja. Ia juga sering bercerita tentang keluarganya, teman-teman di sekolah lamanya, dan apa saja yang ia lakukan selama akhir pekan. Tapi sungguh, aku tak ingin tahu dan tak ingin peduli. Informasi itu tidak penting bagiku

Seakan menonaktifkan inderanya, gadis itu sama sekali tak peduli dengan perlakuan ku padanya. Meskipun aku tak menghiraukannya dan terkadang aku membentaknya, ia sama sekali tak menyerah untuk mengajakku berteman dengannya.

Lama-lama aku pun menyerah. Sedikit demi sedikit aku mulai merespon Allie, dan entah sejak kapan aku mulai dekat dengannya. Saat itu aku baru menyadari karakter Allie sangat bertolak belakang denganku. Ia sangat ceria dan dengan mudah tersenyum seakan tak memiliki beban dalam hidupnya.

Minggu berganti minggu dan bulan berganti dengan bulan lainnya. Pertemanan ku dan Allie menjadi semakin erat.

Apa aku bisa menyebutnya kami sekarang bersahabat?

Kami menjadi sangat dekat, mungkin karena kami sama-sama keturunan orang Asia. Kami sering melakukan sesuatu bersama seperti makan di kantin, dan semua aktifitas yang dulu aku lakukan sendiri. Kami juga sering menghabiskan akhir pekan bersama, hanya sekedar mengobrol di rumah Allie atau Menikmati keramaian di salah satu distrik terkenal di kota kami.

Aku tak menyangka ternyata memiliki seorang sahabat tidak seburuk itu. Aku pikir, punya sahabat akan sangat merepotkan. I mean, when you start to feel so attached to your friend.

Aku tak suka perasaan itu, membuatku seperti orang tak waras ketika semua berakhir begitu saja.

“Jass, kau ingin pesan apa??” tanya Allie, saat kami baru saja memasuki sebuah kedai kopi, selepas menikmati akhir pekan dengan berbelanja. Sebenarnya bukan aku yang berbelanja, aku hanya menemani Allie.

“Seperti bias,.” jawabku singkat.

Allie mendengus. “Seleramu sungguh seperti seorang pria tua.”

yup, dia langsung tau apa yang ku inginkan.

“Kami pesan americano, coffe latte, dan 2 porsi red velvet cake,” ucapnya pada pelayan yang sejak tadi menunggu pesanan kami.

Tak lama kemudian pesan kami pun datang. Setelah mengucapkan terimakasih kepada pelayan yang mengantarkan pesanan kami, kami pun menikmatinya sembari sesekali melontarkan kalimat-kalimat yang membuat kami tertawa bersama. Setelah selesai menikmati minuman dan cake yang kami pesan, kami pun meninggalkan kedai kopi itu.

“Kemana lagi kita?” tanyaku pada Allie. Sungguh, aku tidak tahu apa-apa tentang rencana akhir pekan ini. Ini rencananya, dan dia sengaja menyeretku dari balik selimut hangatku pagi-pagi sekali.

“Aku ingin membeli buku lagi,”

Apa!! Gadis ini benar-benar…..

“Ya tuhan, All! Kau sudah membeli lima buku hari ini. Kali ini buku apa lagi?” herank. Apa ia seorang maniak buku? Sejak tadi yang dibelinya hanyalah buku, buku, dan buku.

“Kali ini buku yang berbeda, Jass.”

“Kenapa kau tidak membelinya tadi?”

“Aku lupa,” Jawabnya dengan wajah tanpa dosa. Sungguh, aku benar-benar ingin memukul kepalanya.

“Tidak bisakah kau tidak melupakan sesuatu satu hari saja? Apa kau menderita Alzeimer?” tanyaku masih dengan nada geram

“Lebih parah dari itu,” gumamnya, dengan wajah sedikit sendu.

“Apa?”

“Tidak!” ia menggeleng cepat, dan tersenyum kembali seolah ia barusan tak terlihat sedih. “Ayo kita pergi,” ucapnya sembari menarik tanganku untuk mengikutinya.

“Apa kau tau di mana letak toko bukunya?” tanyaku. Karena ia terus menarikku seakan ia tau daerah ini.

“Tidak,” jawabnya lagi, masih dengan wajah tanpa dosanya.

Mendengar jawaban Allie, aku hanya bisa memutar bola mata malas.

“Ya sudah, ayo ikut aku.”

Setelah kurang lebih lima belas menit berjalan kaki, kami pun akhirnya sampai di sebuah toko buku yang lebih besar dari yang tadi kami kunjungi. Kami memasuki toko buku itu dan langsung disambut dengan ribuan buku yang tersusun rapi di rak-rak yang menempel di dinding ataupun di tengah-tengah toko buku itu. Buku-buku di sini sudah disusun menurut kategori masing-masing seperti novel, biografi tokoh, dan lain-lain. Sayangnya, hal itu tak membuatku tertarik.

Berbeda dengan Allie yang melihat dengan antusias deretan buku di depannya. Aku pun hanya mengikuti gadis itu saat ia mulai masuk deretan buku dengan kategori…….Medis? Buku apa yang dia cari di sana?.

“Kau mencari buku itu?” tanya ku saat ia meraih buku dengan judul Brain Cancer setelah berkeliling melihat-lihat.

“Iya.” jawabnya, tanpa mengalihkan fokus dari sampul buku yang membuatku hampir muntah melihat gambarnya.

“Untuk apa? Kurasa Mr. Hans tidak memberi kita tugas yang berhubungan dengan Kanker Otak.”

“Hm….aku hanya ingin tahu karena mungkin setelah lulus, aku akan masuk kedokteran,” ucapnya yang membuatku menganggu-angguk paham. “Ayo kita pergi, aku sudah menemukan bukuku.”

Kami pun segera meninggalkan toko buku itu setelah Allie membayar bukunya.

——————–

Waktu terus berjalan begitu juga persahabatanku dengan Allie yang juga semakin dalam, bahkan kami mengatakan untuk saling mendukung satu sama lain apapun yang terjadi dan tak perlu ada rahasia di antara kita, tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa seperti ada sesuatu yang disembunyikan Allie dariku.

Ia jarang sekali masuk ke sekolah. Dalam satu bulan, ia hanya hadir kurang lebih selama seminggu. Saat aku bertanya padanya, ia hanya menjawab bahwa ia harus ikut bolak-balik ke luar negeri karena Ayahnya membuka cabang perusahaannya di sana.

Aku mencoba menerima jawaban itu. Jujur, perasaanku mengatakan jika bukan itu penyababnya, tapi aku hanya diam saja.

Saat ini aku tengah menghabiskan waktu istirahat di kantin sekolah sembari menikmati jus yang aku pesan bersama Allie. Ya, hari ini ia masuk sekolah.

“Kau sungguh tbaik-baik saja?,” tanyaku padanya yang tengah menyeruput jusnya. “Kau terlihat sangat pucat,” lanjutku. Ia benar-benar terlihat sangat pucat.

“Ah, iya. Aku sedang tidak enak badan. Ku rasa aku kelelahan,” jawabnya.

“Apa tak sebaiknya kau pulang lebih awal? Kau benar-benar terlihat tidak sehat.”

“Tak apa, aku bisa menunggu hingga kelas terakhir,” ucap Allie pada akhirnya.

Tak lama, bell berbunyi. Kami pun kembali ke kelas karena jam istirahat sudah berakhir.

 

Keesokan harinya, Allie lagi-lagi tidak masuk sekolah. Aku bersikap biasa karena ku pikir gadis itu masih merasa kurang sehat dan butuh istirahat selama dua atau tiga hari. Sepulang sekolah aku memutuskan untuk mengunjunginya, tapi asisten rumah tangganya berkata, Allie dan orang tuanya tidak ada di rumah, mereka sedang mengunjungi keluarganya di luar kota. Tapi kenapa Allie tak menghubungiku? Itulah pertanyaan yang muncul di otakku. Biasanya saat Allie tak masuk sekolah ia akan menghubungiku.

Tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat, dan ini sudah hampir satu bulan sejak terakhir kali Allie masuk sekolah. Aku sudah mencoba menghubunginya tapi tak ada jawaban. Mengiriminya pesan, tapi tak ada balasan. Aku juga mencoba bertanya lagi kepada asisten rumah tangga di rumah Allie, tapi jawaban yang ia berikan terkadang berubah-ubah. Suatu hari ia menjawab mereka masih di rumah sanak saudar, di hari lain ia menjawab mereka ke luar negeri sedang liburan, aku sampai tidak bisa lagi mempercayai perkataan asisten rumah tangga keluarga Allie.

Saat ini jam istirahat, tapi aku lebih memilih menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas dari pada harus pergi ke kantin seorang diri. Aku tengah membaca komik kesukaanku saat seseorang tiba-tiba memanggilku. Aku pun mengalihkan pandanganku pada orang itu.

“Ms. Kath memanggilmu ke ruang guru sekarang juga,” ucap orang itu, yang ternyata adalah Si ketua kelas.

Aku pun segera beranjak dari kursiku. “Terimakasih,” ucapku saat aku melewati kursinya dan dengan segera pergi ke ruang guru

“Permisi Ms, anda memanggil saya?” tanyaku sesampainya di ruang guru.

“Oh, jasslyne, kemarilah!”

Akupun mendekat ke meja Ms. Kath. Guru muda itu tampak tengah membongkar lacinya seperti mencari sesuatu saat ia melihatku, senyumnya pun merekah ketika ia menemukan benda yang dicarinya. Sebuah amplop surat?

“Ini untukmu. Seseorang menitipkannya padaku tadi pagi,” ucapnya seraya menyodorkan amplop surat itu padaku. Aku pun menerima amplop surat itu dengan bingung.

“Untuk saya? Dari siapa?” tanyaku, bingung.

“Aku juga tidak tahu. Ia hanya mengatakan surat ini untuk seorang siswi bernama Jasslyne Hwang.”

Aku hanya mengangguk mengerti dengan penjelasan singkat Ms. Kath. “Baiklah. terimakasih Ms,” ucapku sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang guru.

Aku memutuskan untuk membawa surat itu ke taman belakang sekolah, dan duduk di bawah pohon rindang favoritku dan Allie. Aku pun membuka amplop surat yang tadi Ms.Kath berikan padaku dan membacanya dengan seksama.

 

Dear My Friend.

Jasslyne

 

Hay jasslyne, apa kabar?

Baik bukan?

Maaf, aku tidak memberimu kabar selama ini  dan membuatmu khawatir.

Namun, saat kau membaca surat ini aku mungkin sudah tidak ada.

Kau pasti bertanya apa maksudnya kan?

Baiklah, akan aku katakan.

Sejak tahun keduaku di Junior High School, dokter mendiaknosa bahwa aku mengidap kanker otak stadium tiga. Sejak saat itu aku menjalankan pengobatan dan rutin melakukan pemeriksaan tapi dokter berkata sel kankerku berkembang sangat cepat. Jadi pengobatanku hanya bisa memperlambat perkembangan sel kankerku. Dokterku berkata bahwa aku tak lagi memiliki harapan hidup saat itu. Benar saja, aku meresa seperti hidupku diambil saat itu juga, tapi aku sadar. Masih banyak orang-orang yang menyangiku dan mengharapkanku. Aku mulai bangkit lagi dan berpikir, jika aku terus-menerus terpuruk aku akan membuat orang-orang yang menyangiku jauh lebih terpuruk, terutama orang tuaku dan akhirnya aku bertahan sampai aku bertemu dengan mu.

Maaf baru memberi tahumu sekarang.

Jass, terimakasih kau mau menjadi sahabatku di detik-detik terakhir hidupku. Meskipun waktu yang kita punya sangat singkat, tapi itu sangat berharga bagiku. Aku sangat bahagia bisa menghabiskan sisa hidupku bersenang-senang bersamamu  dan bahkan kita membuat janji bersama. Aku sangat bahagia. Sebelumnya aku tidak pernah membuat janji seperti itu dengan siapapun karena aku sama sepertimu, tidak memiliki teman untuk sekedar berbagi cerita atau bahkan membuat janji bersama, tapi maaf, aku tidak bisa menepati janji itu.

Mungkin sulit bagimu untuk mempercayaiku lagi karena janji yang telah ku ingkari, tapi izinkan aku untuk membuat satu janji lagi. Aku berjanji, akan menepati janji itu di kehidupan kita yang selanjutnya. Itu pun jika kau masih mau berteman denganku.

Aku harap, kau tetap melanjutkan Jalanmu, mimpimu, dan hidupmu yang berharga. Satu lagi, Jangan pernah berpikir kau tidak berarti bagi siapapun. Percayalah, pasti ada orang yang menganggapmu sangat berarti dihidupnya, terutama orang tuamu. Jangan pernah berpikir mereka tidak menyayangimu Jasslyne. Mereka sangat menyayangimu.

Selamat tinggal Jasslyne. Aku tidak akan melupakan dirimu meskipun kini kita di dunia yang berbeda, karena kau adalah teman pertama dan terakhir yang aku miliki. Terimakasih, maafkan aku, dan aku sangat menyangimu.

 

Your Friend

Allieson

 

 

Ku remat surat yang baru saja ku baca dengan perasaan yang tak menentu. Sedih, bingung dan juga marah. Kenapa ia baru mengatakan hal itu padaku sekarang?  Apa ia menganggapku sebagai sahabatnya? Sungguh, aku benar-benar kecewa pada Allie.

Aku segera beranjak dari tempatku dan berjalan dengan kasar menuju kelas. Sesampainya di kelas, aku pun langsung menyambar tasku yang ku letakkan di atas meja dan pergi begitu saja dengan deraian air mata yang tak mampu ku tahan lagi. Dapat ku dengar bisik-bisik teman sekelasku yang bingung melihatku menangis, tapi aku tidak peduli. Mood-ku sudah terlanjur berantakan untuk sekedar mengikuti jam terakhir.

Kehidupanku kembali seperti semula. Tidak ada Allie, tidak ada yang menemaniku makan dikantin, membaca buku di perpustakaan, bersantai di bawah pohon di taman belakang. Semua kulakukan sendiri, sama seperti sebelum Allie pindah kesekolah ini.

Sudahlah, tidak pelu dipermasalahkan lagi, aku sudah terbiasa dengan kesendirian ini. Lagi pula, aku yakin Allie pasti sudah bahagia di sana.

——————–

Saat ini aku tengah berdiri di depan sebuah gundukan tanah dengan batu marmer bertulis di permukaannya. Allieson Park, nama itulah yang tertulis di atas batu marmer itu.

Ini sudah dua minggu sejak kepergian Allie dan baru hari ini aku bisa mengunjungi makamnya.

Sandiego Hills Memoriam Park adalah tempat yang dipilih keluarga Allie sebagai peristirahatan terakhir gadis itu.

“Hi All, maaf baru mengunjungimu kali ini,” ucapku, seakan berbicara pada angin yang berhembus dan berharap angin itu dapat menyampaikan apa yang aku katakan pada Allie.

 

“Kau tahu? Aku juga sangat bahagia bisa memiliki teman sepertimu. Tak ku sangka, memiliki seorang teman akan sangat membahagiakan.”

Oh sial, haruskah air mata ini mengalir lagi.

“Kau membuatku tahu apa itu persahabatan, bagaimana memiliki seorang teman, dan membunuh kesendirian yang selama ini mengelilingiku.”

“Maafkan aku, karena pernah mengacuhkanmu bahkan membentakmu. Sungguh, aku menyesal melakukan itu. Aku bingung harus berkata apa lagi. Aku hanya ingin mengatakan. Selamat jalan Aallieson Park, Berbahagialah dengan sahabat-sahabat barumu di sana. Aku juga menyangimu, All.”

THE END