Slow Down! Melihat Hustle Culture di Hari Ini.

Katanya, kalau kita mau sukses harus kerja cerdas. Katanya lagi, kalau kita mau punya kebebasan finansial secara cepat ya harus kerja keras. Ada lagi, kerja cerdas dan kerja keras saja tidak cukup, kita harus hustle.

Generasi muda saat ini tentu familiar dengan hustle culture. Merujuk pada tulisan Adele Jackson-Gibson dalam “How to Identify Hustle Culture and What You Can Do to Break Away From It “, adalah gaya hidup dimana pekerjaan merupakan prioritas utama di atas hobi, waktu untuk keluarga, perawatan diri, dan lainnya. Bukan tanpa motif, kebanyakan mereka yang melakukan hustle culture terjebak karena banyak alasan, terutama keuangan. Melalui Vice Indonesia dalam sebuah video pendek bertajuk “Cara Anak Muda Bertahan Hidup dalam Kesibukan Kota Jakarta”, bisa keliling dunia dan memiliki financial freedom adalah dua dari sekian banyak alasan keuangan yang menjerat mereka dalam hustle culture jangka panjang.

Dunia yang semakin kompetitif juga menjadi alasan yang kerap ditemui, salah satunya dapat dilihat dalam “Hustle Culture Memangnya Jamin Kamu Sukses?” Video garapan Narasi Newsroom. Persaingan dalam dunia kerja, dunia pendidikan, serta sektor formal dan informal lainnya memaksa sebagian besar generasi muda mengisi 24 jam yang dimiliki dalam sehari semaksimal mungkin. Nyatanya, di dalam video yang sama, dipaparkan  hasil riset oleh Pencovel bahwa menghabiskan banyak waktu untuk bekerja justru mengurangi tingkat produktivitas. World Health Organization juga menyumbang hasil studi yang mencatat 745.000 orang meninggal setiap tahun karena jam kerja panjang dan berlebihan. Berdasarkan hal tersebut, seorang psikolog, Jennyfer, M.Psi menyatakan bahwa hustle culture memiliki lebih banyak dampak negatif daripada dampak positif bagi ‘penikmatnya’.

Oleh karena itu, sebagai generasi muda agaknya perlu lebih berhati-hati untuk mengatur waktu dan aktivitas yang hendak dilakukan, sebab hidup bukan hanya soal siapa yang paling cepat, siapa yang paling banyak melakukan sesuatu. Tubuh tetap perlu untuk diberi jeda sejenak. Agar kita tidak hanya dapat berlari cepat, tetapi juga berjalan sejauh yang kita bisa.

Penulis :  Sittahayu Endah Khairani

Referensi Foto: Sumber Foto: http://manrepeller.com/