Tersayat yang Bahagia

“Aku yang singkat bisa menjadi sebuah tujuan di dalam kisahmu”. Neisha Dandeliona

Minggu pagi Neisha mengenakan dress berwarna putih dan hijab navy sesuai instruksi mas Ardan. Sling bag kesayangan sudah tersampir di pundak sekaligus memastikan beberapa barang yang dibawa, tidak lupa Flatshoes pemberian mas Ardan selalu di pakai kemana saja. Neisha sangat antusias atas janjinya mas Ardan yang mengajaknya ke suatu tempat. Neisha Dandeliona nama panjangnya dan ia adalah anak pertama dari  keluarga sederhana, dimana sang Bunda  hanya sebagai Ibu rumah tangga dan Ayahnya bekerja di perusahaan terbesar di wilayah Kediri namun hanya sebagai sopir pengantar barang. Didikan orang tua yang sederhana ini membuat Neisha menjadi perempuan tangguh karena ingin mematahkan stigma ‘bahwa seorang perempuan nantinya hanya jadi ahli dapur saja’ itu tidak benar. Neisha yang selalu tersenyum ini mengidap gangguan bipolar atau mania depresif, yang belum diketahui sebab akibatnya. Neisha pun tidak ingin berobat akan hal tersebut bahkan memilih menutupinya dan menganggap ini adalah anugerah dari Allah atas tindakannya selama hidup.

Neisha dan mas Ardan sudah berada di lokasi yang telah dijanjikan tersebut. Asing tapi indah dengan berbagai tumbuhan tumbuh subur mengakibatkan udara lebih sejuk serta rindang, Neisha memejamkan mata dengan menarik nafas secara perlahan membuat dirinya lebih  fresh.  Neisha yang sejak tadi tertarik untuk mengabadikan setiap inci sudut tempat ini, bukan tanpa sengaja melupakan keberadaan mas Ardan yang siap siaga disampingnya.

Perihal mas Ardan cukup panjang jika diceritakan, sosok manusia sempurna penuh kejutan yang tidak sengaja bertemu Neisha dan saling melengkapi satu dengan lainnya. Bersyukur atas jawaban dari do’a-do’anya yang berangan dimiliki oleh laki-laki serius mempunyai tujuan masa depan, pengertian, selalu disisinya, pekerja keras, selalu men-support apapun yang Neisha lakukan dan banyak lainnya ternyata dikirimlah manusia sempurna itu mas Ardan. Namun disisi lain Neisha merasa membohongi mas Ardan atas gangguan bipolarnya yang tidak diketahui oleh mas Ardan, bukan tanpa alasan tetapi agar tidak menjadi bebannya dan adanya perasaan tidak enak hati akibat permasalahan yang ada di antara mereka itu karena ulah Neisha yang sulit mengendalikan emosi. Dari lubuk hati Neisha, tidak ingin berperilaku seperti ini karena memang mas Ardan-lah yang dulu membuka hatinya penuh perjuangan hebat karena mati rasa, dan trauma yang dialami Neisha. Bisa dibilang Neisha saat ini sangat bergantung kepada mas Ardan dalam apapun, jika mereka berpisah entahlah akan menjadi seperti apa. Rizky Ardiansyah namanya, anak pertama keluarga yang cukup terpandang, namun  hidupnya selalu terpisah dengan orang tuanya sejak kecil. Mas Ardan sempat bunuh diri karena memang hidupnya itu layaknya boneka yang di suruh kesana kemari tanpa adanya pengakuan bahwa mas Ardan ini ‘anaknya’. Neisha yang iba atas kisah hidup pahitnya mas Ardan mencoba membuka hati dan pikirannya untuk berubah, Mas Ardan pun merasa tumpuan hidupnya hanya pada Neisha sehingga apapun akan dilakukan hanya untuk Neisha agar selalu aman berada disisinya.

“Sha ayok pulang, papa telfon aku disuruh ke rumah katanya ada acara. Besok saja kesini lagi”. Benar dugaan Neisha bahwa Qtime bersamanya pasti selalu seperti ini.

“Mas..Papa itu selalu begini, sampai kapan mau diperbudak oleh selingkuhannya. Aku cuma pengen Qtime bersama mas, kita tuh sibuk kuliah, ngurus orderan, mas juga freelance kerja. Selama ini aku menunggu mas loh”.

“Ayolah sha, jangan ngawur deh. Aku gk suka kamu kek anak kecil”.

“Mas. Kamu menganggap aku anak kecil? Iya?? Anak kecil ini juga butuh kepastian atas janji mas, gk cuma omong kosong”. Bantah Neisha tidak terima.

“Gak usah bertengkar disini bisa gak si, aku tu capek. Kapan kamu mengerti keadaanku sih sha?  Kamu selalu egois, Papa juga butuh aku walau aku juga benci diperlakukan seperti ini. Pengen marah? Jelas tetapi tidak ada satupun yang peduli ke mas sha. Dimana selalu dianggap sampah dan remeh, bahkan sekarang kamu berubah”.

“Cukup mas!! Mas selalu begini apapun ditengahi dan menyalahkan keadaan. Aku bisa membedakan benar dan salah mas, aku mengajak Qtime untuk menghibur mas dari kejenuhan. Bahkan mas aja gak kasih kesempatan untuk aku ungkapin alasannya. Aku tahu bahwa Neisha sekarang berubah dari Nesiha yang dulu tetapi-“.

“Tetapi apa sha”. Lirih mas Andan

“Enggak mas, gak ada apa-apa kok. Aku yang berlebihan dan selalu berperilaku seperti anak kecil. Jadi, mas pulang aja ya. Aku masih betah disini”.

“Sha.. kamu menyembunyikan sesuatu ya? Kamu anggap aku apa sha, kekurangan kamu aja aku gak tau. Ayolah.. kita udah dewasa. Gak harusnya saling menyembunyikan sesuatu. Bahkan yang tau segala hal adalah sahabat mu”.

“Sudah mas gak perlu dibahas, iya aku salah kok. Oh ya mas, aku mau kita break. Aku terlalu menyiksa mu dan maaf aku bukan perempuan yang kamu impikan dan aku banyak berubah. Maaf dan terima kasih atas segalanya”.

Kecewa, sedih dan terlalu kurang ajar Neisha mengatakan yang enggak seharusnya dikatakan yaitu break atau putus kepada mas Ardan yang sempurna. Cukup gila memang hanya persoalan sepele ingin mengakhiri, tetapi hati mana yang tidak sakit setiap jalan bersama keluar selalu ada urusan mendadak dari papanya. Neisha yang gelisah, tergesa-gesa menyusul mas Ardan untuk meminta izin pulang bersamanya. Perjalanan pulang tidak ada yang memulai pembicaraan kecuali Neisha yang mengajaknya mampir ke toko buah, agar bisa membawakan oleh-oleh untuk Mamanya mas Ardan. Sesampainya di depan rumah, Neisha nampak bingung karena keadaan rumah Mas Ardan sangat ramai dihiasi dengan dekorasi yang indah seperti keinginan Neisha. Mas Ardan yang nampak menahan emosi berjalan cepat untuk menemui papanya tanpa memedulikan sapaan sanak saudara. Mas Ardan selalu menggenggam tangan Neisha kemanapun walau ini adalah masalah keluarganya tetapi berhak tahu karena Neisha sangat berarti dalam hidupnya, ia sudah muak dengan drama ini.

“Ardan.. Papa tahu ini terlalu terburu-buru untuk kamu, tetapi ini demi kebaikanmu dan juga Kamila. Maka dari itu Papa menjodohkanmu dengan Kamila dan saat ini juga kamu melamarnya sekaligus menikahinya, Papa yakin Kamila pantas untukmu. Jadi apakah kamu ikhlas Neisha?”. Deg, kata-kata Papa membuat hati Neisha teriris ‘bagaimana tentang perasaannya? Ataukah perasaannya ini dianggap remeh?’.

“Pa.. cukup. Aku sudah mempunyai calon sendiri, aku sejak kecil yang selalu hidup sendiri juga harus punya pasangan hidup. Aku capek pa selalu menjadi boneka demi selingkuhan Papa dan kenapa Kamila? KENAPA KAMILA PA? KENAPA HARUS ANAK DARI SELINGKUHAN PAPA? AKU YANG ANAK KANDUNG PAPA SAJA TIDAK PERNAH  MENDENGAR PAPA SAYANG SAMA ARDAN BAHKAN MENANYAKAN BAGAIMANA KEADAAN ARDAN, YANG DIMANJA MALAH KAMILA. Neisha pa yang selama ini mengurus Ardan untuk tetap waras. Setega itu kah aku harus menikahi anak dari perempuan yang tidak tahu diri itu? Aku saja selalu mencoba memahami serta memuliakan Mama, tidak mau menyakiti Mama bahkan aku rela pulang pergi demi Mama. Tetapi Papa malah meratukan perempuan itu, memangnya Papa dikasih warisan olehnya? Jika papa tetap ingin acara ini diselenggarakan, aku ingin pisah KK saat ini juga dari Mama dan Papa atau biarkan aku melamar dan menikahi Neisha saat ini juga”.

“Mas jangan begini ya.. mending turuti saja perkataan orang tua, Neisha ikhlas mas bahkan Neisha ridho jika memang ini takdir Neisha. Kita kan sudah putus mas, jadi mas berhak menikah dengan siapapun. Neisha gak suka mas berkata kasar sama orang tua, apapun itu tetap orang tua kita mas dan gak ada ceritanya mantan orang tua”. Ucap Neisha menengahi dan menenangkan Mas Ardan.

“Gak sha, ini hidup kita. Aku harus ngabulin janji-janji itu ke kamu, aku pun gak meng-iyakan kalau kita putus. Tumpuan hidupku itu ada di kamu sha, kamu perempuan hebat. Apakah aku gak pantas membalasnya dengan niat baik? Aku tau sha kamu selalu menunggu lamaranku, tetapi dengan drama yang Papa buat mengakhibatkan hubungan kita yang dikorbankan seperti sekarang ini. Aku yang paling tidak ridho ketika kamu di injak-injak oleh orang lain, nah dengan keadaan seperti ini malah menikahi perempuan lain yang akan menimbulkan pertanyaan ‘dimana letak sikap laki-lakiku’ sha. Jadi diam dan turuti saja perintahku demi masa depan kita, walau berada di momen yang tidak tepat atau semewah yang kamu impikan. Oh ya sha.. aku juga sudah sempat memintamu secara tidak resmi kepada Ayah Bunda, kalau tidak denganmu bagaimana harapan Ayah Bunda yang menerimaku sebagai calon menantunya yang siap menjagamu. Dan satu hal lagi, Papa jangan ikut campur urusan kami saat ini hingga setelah menikah kedepan bahkan aku tau alasan Papa merencanakan ini. Terimakasih sudah menjadi Papa yang baik untuk Ardan”. Ucap Ardan yang keluar dari ruangan tersebut cukup terkejut jika Mamanya ada didepan pintu dan melamun. Mama yang tidak sengaja melewati ruangan tersebut dan mendengar kejujuran dari mulut Ardan serta suaminya itu merasa teriris. ‘Sebodoh itukah ia menjadi seorang istri yang tidak mengabdi dengan baik kepada suami, sehingga suaminya sendiri tega melakukan perselingkuhan’. Mama tersadar jika Ardan didepan matanya hanya bisa memberikan pelukan serta memberikan restu apapun keputusan dari anak pertamanya.

“Mama ridho Ardan membuat keputusan apapun, walau Mama sempat kecewa kamu berkata lantang dan keras kepada Papamu. Papamu memang bersalah tetapi tawadhu’ itu tetap penting Ardan. Oh ya Mama merasa bangga bisa mendidikmu menjadi seorang laki-laki yang bertanggung jawab, selalu memuliakan perempuan, ditambah mempunyai pemikiran yang maju. Terimakasih sudah menjadi anak mama, Ardan. Dalam hitungan jam kamu akan menjadi suami teruslah memulikan perempuan karena suksesmu ada pada do’a istri dan anak-anakmu”. Nasehat Mama.

Neisha yang memandang momen tersebut merasa bahagia bercampur haru, lalu meminta restu kepada Mama untuk menjadi pendamping sehidup sesurganya mas Ardan. Tidak hanya itu saja, ia juga meminta maaf kepada Papa karena telah lancang hadir ditengah-tengah permasalahan antara anak dan Ayah. Mama menuntun calon menantunya itu ke kamar mas Ardan, lalu Neisha mengambil air wudhu agar diberi kemudahan dan kelancaran untuk mengarungi kehidupan yang akan dimulainya. Ya hidup baru itu dimulai ketika menikah, maka apapun rintangan harus dipertahankan agar mendapat sakinah mawaddah warrahmahnya dari Allah. Banyaknya topik yang Mama bicarakan kepada Neisha seperti nasehat-nasehat pernikahan, tidak lama MUA yang dipesan oleh mas Ardan telah datang dengan membawa dress cantik elegan berwarna navy.

“Ardan, maafkan Papa ya. Papa emang egois tetapi ini semua ada alasannya. Papa tidak tega dengan Kamila yang sejak kecil butuh dampingan seorang Ayah, dan Papa pikir menikahkanmu dengan Kamila adalah pilihan yang tepat dan dapat menjaga Kamila nantinya namun ternyata salah. Jadi apapun keputusanmu Papa merestuimu Ardan semoga menjadi suami lebih baik dari Papa. Untuk Mama maafkan Papa, tidak bermaksud mengkhianti terimakasih sudah menjadi istri yang sempurna untuk Papa”. Gumam Papa yang menatap nanar kearah Ardan dan Mama secara bergantian.

“SAH! Alhamdulillah”. Ujar semua orang yang berada di ruangan tersebut. Mama, papa, ayah, bunda serta saudara hingga tetangga yang di undang pada acara ini menangis haru sambil memanjatkan do’a yang dipimpin oleh penghulu. Lalu dengan sedikit canggung Neisha meraih dan mencium tangan mas Ardan yang sekarang adalah suami Neisha, surganya Neisha, tempat berlabuhnya hati Neisha. “Assalamu’alaikum Humairaku”. Lirih mas Ardan yang mengecup kening Neisha.

Semua orang lega akhirnya pernikahan ini berjalan lancar dan khidmat meskipun tidak direncanakan. Ayah Bunda yang tidak tahu apa-apa, dadakan diberi tahu oleh Mas Ardan untuk segera ke lokasi sedangkan Mas Ardan sibuk menyiapkan segalanya dalam waktu 4 jam. Ini bukan pernikahan rahasia tetapi merahasiakan sesuatu dari orang banyak atas kesalah pahaman dari keluarga mas Ardan. Tidak lupa mereka mengabadikan momen sakral ini melalui lensa camera untuk dikenang selamanya.

End-

Penulis: Aisya Dyva Rahmanita