Tips Menggunakan Medsos Sebagai Media Self Marketing

Hermawan Kartajaya dalam bukunya berjudul “Marketing Yourself” mengatakan menghadapi persaingan pasar kita mesti mempunyai taktik. Hermawan menyebutkannya sebagai elemen pemasaran. Misalnya, differentiation, selling dan branding.

Differentiation adalah bagaimana kita terintegrasi dengan content dan contex. Content adalah kemampuan kita menguasai suatu bidang, keluasaan pengetahuan, dan pengalaman. Sementara contex adalah pembawaan diri, penampilan, gaya dan sikap di sebuah lingkungan kita berada. Selling dan branding secara umum berkaitan dengan kepandaian membangun self imagine, memiliki hubungan yang baik, menawarkan best services kepada siapapun customer kita.

Dalam konteks, selling dan branding kita tidak sekedar berjuang untuk benefit semata, namun juga berlomba-lomba untuk memberikan solusi dan dampak yang paling baik atas persoalan yang dihadapi. Billy Boen (2019) dalam buku “Young on Top: 30 Rahasia Sukses di Usia Muda” menegaskan bahwa jika kita benar-benar ingin sukses, miliki prinsip bring solutions, not problems.

Apa maksudnya? Maksudnya adalah kita wajib menghadirkan solusi terhadap setiap permasalahan. Jangan justru menjadi ganjalan kesuksesan. Yakini bahwa tidak ada masalah yang tak terpecahkan. Seandainya kita datang dengan sebuah solusi namun belum manjur, tidak berarti tertutup semua jalan. Ketahuilah pasti ada orang yang membantu kita. Pasti ada jalan untuk menyempurnakannya.

Banyak kepala, banyak pendapat. Banyak masalah, banyak solusi. Banyak belajar, banyak tahu.

Urgensi Self Marketing

Pemikiran Hermawan dan Boen memiliki kesamaan dalam konteks sukses melalui self marketing. Mengapa self marketing penting? Pertama-tama karena kita ingin para stakeholder di dunia kerja mengenali dan mau bekerjasama dengan kita. Menciptakan diri yang berbeda dan bermerek itu kunci utama untuk menggait mereka.  Kedua, kita berada di dunia yang penuh dengan kompetisi. Untuk meraih pekerjaan dan kesuksesan kita harus unjuk kebolehan dan ketrampilan di antara pesaing-pesaing yang lain. Maka, sekadar pintar saja tidak cukup untuk sukses. Bermodalkan ijazah sarjana dari perguruan tinggi ternama pun belum menjamin masa depan.

Zaman sekarang berbeda jauh dengan zaman dulu. Zaman sekarang adalah zaman dimana interaksi dilakukan menggunakan teknologi tinggi berbasis internet dan smartphone. Arus informasi sangat cepat penyebarannya. Zaman ini juga kerap diasosiakan dengan era anak-anak muda atau yang sering disebut generasi millennials. Internet dan smartphone itu seperti DNA-nya millenials. Millenials dekat dan paham betul bagaimana internet dan smartphone bekerja.

Dengan demikian, sebenarnya self marketing seorang millenial boleh dibilang cukup mudah untuk dilakukan. Tetapi pertanyaannya, apakah secara serius telah dilakukan? Apakah kita sudah mengetahui seluk beluknya? Faktanya banyak millenial yang masih kesulitan untuk mencari pekerjaan. Banyak millenial yang masih belum tahu arah tujuannya.

Oleh karena itu, tulisan ini hadir sebagai bentuk refleksi singkat bagaimana cara melakukan self marketing terutama untuk generasi millenial melalui media sosial.

Pertama, kenalilah media sosial sebagai sarana self marketing

Riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis per Januari 2019 lalu mencatatkan, pengguna media sosial (medsos) di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Pengguna medsos mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi. Survei Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (2017) menyebutkan sebanyak 49,52 persen pengguna internet adalah mereka yang berusia 19 hingga 34 tahun alias millennials.

We Are Social (2018) dikutip detik.com, menyatakan platform medsos yang paling diminati di Indonesia, diantaranya  youtube 43%, facebook 41%, whatsapp 40%, instagram 38%, line 33%, BBM 28%, twitter 27%, google+ 25%, FB messenger 24%, linkedin 16%, skype 15%, dan wechat 14%. Apakah kita sudah memanfaatkan medsos yang ada?

Sebagaimana telah saya singgung di awal, generasi millenial sebetulnya sangat mudah melakukan self marketing. Karena kita punya media sosial (medsos). Kemudian, caranya adalah memaksimalkan manfaat (maximize utility) medsos. Menggunakan medsos setiap hari tidak sama dengan mengenalinya. Sifat “mengenali” sesuatu maknanya lebih dalam.

Jika kita ingin dikenal dari medsos, maka pergunakanlah medsos tersebut untuk menunjukan apa kemampuan, skill atau ketrampilan yang dimiliki. Tanamkan persepsi atau mindset self marketing.

Sebagai contoh, saya punya akun facebook, whatsapp, Instagram, twitter, google+, linkedin dan blog. Dalam rangka melakukan self marketing, saya menggunakan semuanya dengan terlebih dahulu mendeferensiasikan tujuan pemanfatannya. Facebook, twitter, instagram dan whatsapp saya pergunakan untuk memperbanyak relasi dan membina hubungan baik atau berbagi informasi (share & receive) mengenai beragam topik.

Linkedin saya prioritaskan untuk segala hal yang berkaitan dengan pekerjaan atau karir. Jadi, rekam jejak saya sejak kuliah dan bekerja dicatatkan pada linkedin. Pasalnya, platform linkedin seperti curriculum vitae (CV) sehingga setiap saat saya dapat mengisi dan menyesuaikannya konten di dalamnya. Di media ini juga banyak professional yang saling berbagi informasi seputar dunia professional masing-masing. Sementara itu, blog biasanya saya kelola untuk menampung hasil karya seperti tulisan, dokumentasi kegiatan atau kreativitas yang bersifat naratif, argumentatif atau deskriptif.

Anda juga bisa menggunakan media yang lain sesuai keinginan dan tujuan Anda. Jika Anda ingin mencari kerja, saat ini pula banyak situs atau aplikasi khusus bisa membawa Anda kepada pemberi kerja. Misalnya, jobsDB.com, jobstreet, trovit, karir.com, dan lain sebagainya.

Kedua, pro-aktif untuk menunjukan siapa diri kita

Saya pikir hal yang paling penting setelah kita menemukan media yang tepat dan memulai self marketing adalah pro-aktif untuk menunjukan secara total diri. Jika kita ingin mendapatkan perhatian recruiter di perusahaan, maka mulai aktif mempromosikan diri. Biasanya secara standar, menampilkan CV di media promosi tersebut dan memulai komunikasi awal dengan mereka ala medsos seperti like, share, & comment.

Di ranah medsos, apapun kita dapat lakukan. Tetapi aktivitas yang perlu fokus kita harus secara rutin menyajikan hal-hal  yang positif berkaitan dengan diri kita. Misalnya, apa sih kelebihan kita. Ceritakan pengalaman kita yang paling berkesan baik di organisasi, kampus, perusahaan atau di masyarakat dan apa kontribusi kita.

Jangan pernah meremehkan apapun yang telah kita perbuat melalui medsos tersebut. Lakukan selalu yang baik dan benar. Anda bisa terkejut ketika mengetahui ada calon pemberi kerja yang secara langsung menawarkan kerjasama dengan Anda. Dalam kondisi lain, dengan jejak Anda tersebut, walaupun Anda tidak secara langsung mendapatkan respon tetapi ada saja yang menaruh atensi. Andaikan suatu saat Anda ingin bekerjasama dengan salah satu entitas baik perusahaan atau individu yang Anda incar, mudah-mudahan dengan apa yang baik Anda lakukan di medsos tersebut memuluskan jalan Anda.

Akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa kita membuat self marketing dalam setiap relasi kita baik di pasar formal maupun informal. Itu artinya kita membentuk nama dan citra. Do it passionately, fight for it.

 

Sumber foto: tekno.kompas.com