Belajar Jadi Pendengar yang Baik

Komunikasi adalah kegiatan yang setiap hari kita lakukan, biasanya kita menjalani peran sebagai pendengar dan pembicara secara bergantian. Saat jadi pendengar tidak sedikit yang mengalami kesulitan untuk menjalankan peran tersebut.

Terlebih jika yang sedang berbicara adalah kerabat dekat kita yang ingin mengutarakan keluh kesahnya. Karena tidak mudah menyiapkan hati dan pikiran kita untuk memahami permasalahan orang lain, menurut Mudita Rastogi, Ph.D seorang pakar pernikahan dan keluarga di Illinois seringkali kita lebih senang didengarkan dan mengutarakan perspektif pribadi dibanding orang lain.

Listening isn’t the same as hearing someone speak. And it’s not as natural or automatic as many people think.

Lalu bagaimana caranya bisa jadi pendengar yang baik? Menurut Rastogi inilah tahapan yang harus kita lakukan untuk siap jadi pendengar yang baik :

  1. Clear your mind. Coba untuk membuka pikiran kamu terhadap cerita seseorang dan kesampingkan asumsi atau pendapat kamu terlebih dahulu untuk mendengarkan detail cerita.
  2. Ask open-ended questions. Daripada bertanya pertanyaan retoris seperti “apakah kamu sedih?”, ” Apa kamu kesal?” atau respon yang menyudutkan, sebaiknya bertanya hal-hal yang lebih terbuka dan tidak menghakimi.
  3. Attend to your own nonverbal cues. Mendengarkan bukan hanya menyiapkan telingamu, tapi coba mendengarkan dengan segenap diri kamu. Lakukan eye-contact, letakan smartphone kamu agar tiak terdistraksi dan pusatkan seluruh perhatian.
  4. Confirm your understanding. Deangarkan dan konfirmasi kembali informasi yang kamu terima apakah sesuai dengan apa yang mereka maksudkan.

Dengan jadi pendengar yang baik kamu bisa membantu meringankan beban seseorang atas masalahnya.

“Listening fully to someone is one of the best gifts we can give them,”