Gredeon, Tradisi Mencari “Ayang” Ala Suku Osing

Hallo YOTers! Siapa nih yang sekarang udah punya ayang Atau belum ada ayang? Kalau yang belum punya ayang, YOTers bisa aja langsung datang ke Banyuwangi. Tapi aku gak berani kasih kepastiaan ya, kalau pulang dari Banyuwangi bakalan dapat ayang juga. Jadi YOTers jangan terlalu kecewa, karena orang yang tinggal di Banyuwangi aja, juga ada yang jomblo. Apa sih Gredoan Tradisi Mencari “Ayang” Ala Suku Osing itu YOTers? YOTers pasti penasaran kan? YOTers bisa banget baca penjelasan di bawah ini!

Ayang atau sayang adalah kata yang kerap kali digunakan untuk memanggil seseorang yang menjadi pasangan YOTers. Kehadiran ayang sangat penting bagi keberlangsungan hidup kita, karena sebagai pengingat kapan waktunya makan, minum dan bernapas disela-sela rutinitas kita yang padat.

Namun tentu tidak semua orang punya ayang sehingga harus rela menyandang status single atau jomblo dan kerap kali dijadikan bahan ceng-cengan teman-teman tongkrongan.
Nah, bagi teman-teman yang masih jomblo jangan khawatir, kalian bisa mengikuti satu tradisi mencari jodoh ala suku Osing di Banyuwangi, yakni tradisi Gredoan.
Gredoan, menurut Budayawan Banyuwangi, Hasnan Singodimayan merupakan tradisi masyarakat suku Osing untuk mencari jodoh.

“Gredo ini artinya menggoda. Ini berlaku buat mereka yang gadis, perjaka, duda dan janda,” terang Hasnan.
Tradisi mencari jodoh ala orang Osing ini diadakan pada satu waktu yang sama dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Hal itu bukan tanpa alasan karena orang-orang suku osing percaya bahwa hari lahirnya Nabi Muhammad Saw adalah hari yang baik untuk mencari jodoh.
“Diadakan bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Biasanya pada malam hari sebelum paginya selamatan di Masjid,” lanjut Hasnan.
Hasnan menjelaskan malam sebelum pengajian para gadis membantu orang tuanya memasak di dapur. “Nah pada saat itu laki-laki yang mengincarnya berada di luar rumah. Dan sang laki-laki memasukkan lidi dari janur kelapa atau dodok sodho lewat dinding rumah yang masih terbuat dari gedhek (Anyaman bambu). Kalau sang perempuan mengiyakan perkenalan tersebut, lidinya akan dipatahkan. Dan mereka akan saling merayu dan ngobrol berdua tapi dibatasi dengan gedhek karena memang tabu jika laki-laki dan perempuan berdua-dua tanpa ikatan. Biasanya sih laki-laki tersebut sudah mengincar perempuannya untuk dijadikan istri dan berakhir pada lamaran dan pernikahan” ungkapnya.
Namun seiring majunya jaman dan berkembangnya teknologi informasi. Metode memasukan lidi ke gedhek tidak lagi dapat diterapkan karena gedhek yang tadinya digunakan sebagai dinding oleh masyarakat perlahan tergeser oleh batu bata dan semen. Alat yang digunakan pun bukan lagi lidi namun ponsel untuk ngobrol via chatting apps ataupun media sosial.

Tradisi Gredoan di Desa Macan Putih selalu berlangsung sangat meriah. Ratusan warga baik dari Desa Macan putih sendiri ataupun dari desa-desa lain beramai-ramai mengunjungi Desa Macan putih.
Belum lagi beberapa atraksi yang ditampilkan serta pawai keliling desa yang menampilkan beberapa hiburan, seperti atraksi tarian tongkat api, musik daerah hingga karnaval boneka yang dibuat oleh masyarakat Desa Macan putih.
Sayangnya teman-teman harus lebih bersabar lagi dikarenakan pandemi covid-19 yang sedang melanda indonesia dan belum tahu kapan berakhirnya, tradisi gredoan ini pun masih vakum hingga saat artikel ini ditulis.

Nah dari penjelasan diatas! YOTers pasti udah paham kan penjelasan tentang Gradeon Tradisi Mencari “Ayang” Ala Suku Osing kan? Kalau YOTers masih bingung bisa banget komen di kolom kementar ya! See You YOTers!

Sumber: https://www.boombastis.com
Penulis: Iron Wardana