The Art of Thinking Clearly

Pada saat bulan September lalu saya membaca buku “The Art of Thinkin’ Clearly” by Rolf Dobelli. Izinkan saya untuk bercerita sedikit mengenai pengalaman saya membaca buku ini dan poin apa yang sekiranya dapat saya ceritakan kepada teman-teman pada artikel ini. Mari kita mulai!

The Art of Thinking Clearly ini merupakan buku karangan Rolf Dobelli seorang penulis asal Switzerland. Beliau menceritakan banyak sekali hal yang dapat membuka mata kita mengenai bagaimana kita harus bersikap atau menghadapi sebuah keadaan dengan berpikir jernih. Buku terbitan tahun 2011 ini tentu saja sudah terkenal karena sudah menjadi International Bestseller. Memiliki 99 sub bab, dimana setiap bab akan menjelaskan mengenai bias atau ilusi yang ada pada kehidupan.

Seorang manusia ditakdirkan untuk memiliki kemampuan untuk berpikir dan menentukan sebuah keputusan nya sendiri. Kita memiliki keistimewaan dengan berpikir, tentu saja harus kita manfaatkan dengan baik. Namun, memang semua itu ada batasnya. Sama hal nya dengan berpikir pun ada batasnya bila tidak digunakan dengan baik, ini yang biasanya kita sebut dengan keadaan Overthinkin atau keadaan dimana kita terlalu memikirkan sesuatu hal dengan berlebihan dan mengakibatkan kepada hal yang akan menjadi diluar kendali kita. Apabila seperti ini maka kita bisa saja memilih jalan atau keputusan yang salah, maka dari itu mulailah segala hal dengan selalu mengambil keputusan dengan berpikir jernih dan jangan biarkan bias selalu menghantui mu.

Bias adalah kesalahan sistematik dalam berpikir yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan yang diambil seseorang. Dalam buku ini ada 99 bias yang akan dibahas dengan sangat menarik. Rasanya 306 halaman akan menjadi hal yang sangat tidak terasa untuk dibaca karena penulis berhasil menyulap pembahasan yang berat ini dengan menarik dan mudah untuk dipahami dengan penjelasan yang tepat dan memberikan contoh berupa cerita. Tentu saja saya tidak akan menceritakan ke-99 bias yang ada pada buku disini. Ada beberapa bias yang menarik perhatian saya dan akan saya ceritakan pada artikel ini.

 

1. Swimmer’s Body Illussion

Pernahkah kalian terpikirkan bagaimana bentuk tubuh seorang atlet perenang? Yaps! Tegap, ramping, atletis dan tampak sangat profesional. Jarang sekali kita menemukan seorang atlet perenang yang memiliki kelebihan berat badan atau bahkan buncit. Hal ini dikarenakan seorang atlet perenang yang hebat memang tidak mengembangkan tubuh sempurna karena latihan yang sangat berat. Mereka dilahirkan dengan fisik yang hebat, yang membantu mereka menjadi perenang hebat dengan pelatihan. Seberapa banyak hal yang kita usahakan itu memang perlu perjuangan dan bentuk kesadaran diri apakah kita mampu mencapai hal tersebut atau tidak. Bias Ilusi Tubuh Seorang Perenang akan muncul apabila kita tidak mampu mengidentifikasi secara utuh bagaimana cara memperjuangkan hal yang ingin kita raih.

Pada bab ini dijelaskan bahwa kita boleh memberikan sebuah ekspetasi pada sesuatu atau mengharapkan suatu hal yang berlebihan atau tidak jelas bisa kita capai atau tidak. Namun, ada hal yang harus kita pertimbangkan terlebih dahulu yaitu apakah hal itu adalah sesuatu yang bisa kita raih atau tidak. Atau kita harus berusaha untuk mencari tau secara detail bagaimana meraih hal tersebut. Jangan hanya mengharapkan hal yang kosong atau tidak jelas bagaimana cara meraihnya.

“Having a positive outlook is at least partly a trait you were born with. Yes, you can improve it with methods in books like self-help books but cannot usually convert yourself completely.”

Berhati-hatilah saat kamu mendorong diri untuk mengupayakan hal-hal tertentu. Seperti membentuk perut sixpack, penampilan rapi, pendapatan yang lebih tinggi, umur panjang dan kebahagiaan. Bisa jadi kamu menjadi “mangsa” dari Swimmer’s Body Illusion. Sebelum memutuskan untuk mengambil resiko, tataplah cermin dan jujurlah tentang apa yang kamu lihat.

 

2. Sunk Cost Fallacy

Apakah kamu pernah mengalami keadaan dimana membeli tiket bioskop untuk menonton suatu film, namun kamu tidak menyukai film tersebut? Apakah tindakan yang akan kamu lakukan? Membiarkan diri untuk menonton film yang membosankan sampai akhir atau meninggalkan bioskop tersebut? Jika kamu memilih untuk tinggal di bioskop dan melanjutkan menonton film yang membosankan tersebut berarti kamu sedang mengalami Sunk Cost Falacy.

Sunk Cost Fallacy adalah sebuah kekeliruan dari segala usaha (effort) dan resource (bukan hanya uang, namun tenaga, pikiran dan hal yang memiliki nilai) yang telah kamu keluarkan. Kenapa kita bisa mengalami hal tersebut? Karena bagi seorang manusia yang normal sangat berat rasanya bagi kita untuk dapat mengakhiri segala sesuatu yang telah kita korbankan untuk suatu hal lain (walaupun hal itu mungkin lebih baik).

Pada dasarnya manusia lebih takut kehilangan daripada mendapatkan sesuatu dengan value yang sama atau biasa disebut dengan Loss Aversion.

Otak manusia dirancang sangat baik oleh Tuhan dimana memilki 3 bagian berupa Hippocampus (short-term memory cause and effect cortisol), Amygdala (fight, flight or frezze) dan Orbitofrontal Cortex. Orbitofrontal Cortex ini adalah bagian otak sebagai perantara pengalaman penyesalan dan sekaligus mengantisipasinya. Kita semua tahu bahwa penyesalan adalah sebagai alat untuk intropeksi diri. Dengan menyesal, membuat kamu menjadi orang yang lebih baik (jika kamu berhasil melewatinya). Jika kamu terus menerus merasa menyesal, hal ini justru menjerumuskan kamu dalam ketidakberhasilan dan membuat dirimu tidak berkembang.

Mari refleksi diri. Apa kita benar harus melanjutkan hal “ini” karena itu memang hal yang baik? Atau karena kita menghindari dilema ketika kita harus membuang segala sesuatu yang telah kita korbakan sebelumnya?

 

– Reizaldy MR