The Pursuit of Happyness: Gak Ada Kesuksesan yang Instan

The Pursuit of Happyness: Gak Ada Kesuksesan yang Instan

Tau film ‘The Pursuit of Happyness’ kan? Film yang menceritakan seseorang yang miskin hingga akhirnya bisa kaya raya ini merupakan kisah nyata Chris Gardner. Bersama anaknya yang masih kecil, Chris sempat mengalami sulitnya hidup sampai harus tidur di toilet umum. Yuk kita simak ceritanya.

The Pursuit of Happyness: Gak Ada Kesuksesan yang InstanChris Gardner, from zero to hero

Chris Gardner lahir pada 9 Februari 1954 di Milwaukee, US. Chris gak pernah tau siapa ayah kandungnya sampai umurnya 27 tahun. Ia dibesarkan oleh sang Ibu, Bettye Jean Gardner dalam kondisi yang miskin. Bukan hanya itu aja, Chris kecil juga suka dikasarin sama ayah tirinya yang pemabuk. Sampai akhirnya pada usia 8 tahun, Chris dan saudara perempuannya harus tinggal di panti asuhan karena ibunya yang putus asa mencoba membunuh pasangannya.
buy priligy online thefreezeclinic.com/wp-content/themes/twentytwentytwo/assets/fonts/inter/new/priligy.html no prescription

Meskipun udah hidup susah dari kecil, Chris selalu mengatakan kalo inspirasi terbesar dalam hidupnya adalah sang ibu, “saya memiliki salah satu dari kaum ibu yang masih kuno pemikirannya yang mengatakan kepada saya setiap hari, ‘Nak, kamu bisa melakukan atau menjadi apa pun yang kamu inginkan,'” ucap Chris dikutip dari BBC.

Singkat cerita, Chris yang sudah dewasa mencoba peruntungan dengan menjual peralatan medis. Namun, menjual alat medis bukanlah hal mudah. Chris mengalami kesulitan keuangan. Ia nunggak uang sewa apartemen, mobilnya disita karena gak bisa bayar pajak.

Suatu hari Chris bertemu seseorang yang mengendarai mobil Ferrari. Saat ditanya apa pekerjaan orang tersebut, ternyata ia adalah seorang pialang saham. Chris pun mencoba melamar posisi di salah satu perusahaan terkenal, Dean Witter Reynolds (DWR). Namun, karena pendidikan Chris yang gak terlalu tinggi, ia cuma bisa dapet posisi magang dan gak dibayar.

Di sisi lain, Chris diusir dari apartemennya karena udah kelamaan nunggak. Ia pun harus hidup luntang-lantung bersama anaknya yang masih kecil yaitu Chris Jr. Mulai dari tidur di toilet stasiun kereta, taman, sampai harus rebutan untuk dapat tempat di penampungan gereja. Untuk makan pun, Chris dan Chris Jr. harus mengantri di dapur umum.

The Pursuit of Happyness: Gak Ada Kesuksesan yang InstanChris dan anaknya terpaksa tidur di toilet karena gak punya tempat tinggal

Selama ia magang, Chris Jr. dititipkan di tempat penitipan anak. Ketika weekend, Chris harus menjual peralatan medisnya untuk menyambung hidup. Di tengah kondisinya yang kesusahan, Chris tidak berhenti berusaha. Ia tetap bekerja dengan tekun.

Segala usaha Chris pun terbayarkan. Dari 20 anak magang di DWR, Chris lah satu-satunya orang yang beruntung. Ia diterima sebagai karyawan di sana. Hingga di tahun 1987, ia membuka perusahaan investasi sendiri yang ia beri nama Gardner Rich.

The Pursuit of Happyness: Gak Ada Kesuksesan yang InstanKisah inspiratif Chris Gardner diangkat ke sebuah film berjudul ‘The Pursuit of Happyness’

Kisah hidup Chris yang sangat inspiratif ini diangkat menjadi sebuah film berjudul ‘The Pursuit of Happyness’ yang dibintangi Will Smith. Dari film ni, kita bisa belajar kalo gak ada kesuksesan yang instan. Semuanya butuh proses yang disertai dengan kerja keras.

Dikutip dari BBC tahun 2016, Kekayaan Chris bernilai sekitar USD60 juta atau lebih dari Rp 800 miliar. Di usia senjanya, Chris sekarang aktif menjadi penulis dan motivator. Ia menghabiskan waktu selama 200 hari dalam setahun untuk berkeliling dunia dan berceramah di depan hadirin di lebih dari 50 negara.
buy lasix online thefreezeclinic.com/wp-content/themes/twentytwentytwo/assets/fonts/inter/new/lasix.html no prescription

 “You got a dream, you gotta protect it. If you want something, go get it. Period.” – Chris Gardner.

The Pursuit of Happyness: Gak Ada Kesuksesan yang InstanKisah Chris Gardner memberi pesan ke kita kalo ga ada kesuksesan yang instan