Tips Buat Kamu yang Terjebak Hustle Culture

Sad female workaholic keeps hands under chin, busy making project work, studies papers, wears elegant white shirt, sits at desktop, unknown people stretch hands with notes, alarm clock, smartphone

YOTers, apakah kalian lagi menikmati liburan? Atau jangan-jangan kalian masih sibuk ngejer deadline? Hati-hati lohh… Jika kamu tidak menyadari hal-hal ini, bisa saja merugikan diri kamu sendiri. Yuk simak penjelasan artikel di bawah ini.

Hustle Culture”, istilah yang sudah sangat sering kita dengar belakangan ini. Banyak dari YOTers yang juga sudah paham jikalau hustle culture merupakan salah satu istilah yang menunjukkan keadaan dimana seseorang mempunyai mentalitas untuk bekerja secara terus menerus demi mengejar tujuan profesionalnya. Mungkin Orang tua kita atau generasi milenial lainnya lebih kenal dengan istilah “Workholic”. Seiring berjalannya zaman, akan semakin banyak istilah yang menjelaskan inti yang sama dengan keadaan seperti ini.

Sebagai anak muda, siapa sih yang gak mau punya “branding” bagus di media sosial? Bisa punya schedule padat kayak tanah abang pas mau puasa, tampil sana sini biar bisa ngalahin ketenaran Rafi Ahmad dan Nagita Slavina, atau mungkin mirror selfie pakai gadget terbaru tiap bulan biar bisa bikin akun review di Youtube kayak David Gadgetin. Lol not sponsored.. Nah, yang bisa dilakukan kaum nanggung kaya kita ini hanyalah kerja keras. Namanya juga anak muda, pasti banyak mau dan putus asanya juga. Meski begitu, kebanyakan anak muda termasuk YOTers sekalian justru membuat keputus-asaan yang ada menjadi bahan bakar untuk semakin bekerja keras demi memenuhi kemauan kita yang banyak tadi.. Bener atau bener?

Kebanyakan dari kita berpikir dengan bekerja keras, kita akan mencapai semua tujuan kita. Serta semakin keras kita bekerja akan semakin besar pula hasil yang akan kita dapatkan. Kemudian, kita meletakkan 100% energi yang ada untuk segala tujuan dan ambisi yang kita miliki dan merasa nothing-to-lose aja gitu, yaa mungkin karena kita masih muda dan energi kita masih banyak. Faktanya, hal tersebur seringkali membuat diri kita burnout. YOTers, perlu kita ketahui bahwa dengan memberikan jeda waktu untuk istirahat dan bersantai sejenak justru akan menbuat semakin banyak pekerjaan yang terselesaikan loh.

 

Yup, beristirahat dapat secara langsung meningkatkan produktivitas kita. Dengan beristirahat dari lelahnya bekerja keras seharian, otak kita akan kembali segar untuk membuat suatu keputusan. Selain itu, ada juga studi dari Stanford University yang menunjukkan bahwa ketika seseorang sedang menangani pekerjaan yang membutuhkan imajinasi, melakukan jalan santai seperti menghirup udara segar akan memberikan kreativitas yang lebih tinggi dibandingkan ketika ia duduk saja (mungkin untuk kondisi sekarang cuma natap layar laptop seharian hehe). Beristirahat bukan berarti bermalas-malasan yaa.. Pastikan istirahat yang dilakukan adalah yang efektif untuk kita ya, YOTers..

 

Namun, YOTers pernah gak sesekali merenung dan mencari tahu untuk apa sebenarnya kita bekerja sekeras itu? Sebetulnya apa perlu kita terus menerus berlomba tanpa ujung untuk end goal yang sebetulnya gak ada? Apakah semua yang kita inginkan itu perlu? Dengan bekerja seperti ini apakah lebih banyak manfaat atau kerugian yang saya dapatkan? Oke, mungkin perlu YOTers renungi lagi beberapa hal tersebut. Bekerja keras memang salah satu instrumen untuk dapat mencapai tujuan-tujuan yang kita miliki, namun bukan satu-satunya hal yang harus kita lakukan ya YOTers.

Memangnya apa lagi yang harus kita lakukan selain bekerja keras? Pertama, temukanlah alasan yang sangat kuat ketika kita berbuat sesuatu. Alasan ini haruslah sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri, contohnya ketika Dr. Soetomo dan kawan-kawannya mendirikan organisasi Budi Utomo dengan tujuan untuk menjamin kehidupan bangsa yang terhormat. Yang kedua adalah lakukan hal-hal dengan konsisten. Buatlah rutinitas-rutinitas baik yang mampu kita lakukan secara konsisten. Yang justru sangat penting adalah rutinitas ketika kita sedang memiliki waktu luang. Isilah waktu luang dengan aktivitas-aktivitas yang memang anda sukai, yang betul-betul kita enjoy melakukannya namun tidak membuat kualitas kesehatan atau apapun dari diri kita menurun pula. Misalnya membaca buku, berenang, memasak, menonton film, atau pergi hiking bersama teman-teman. Yang ketiga adalah pahami bahwa burnout atau kelelahan itu memang tidak bisa dihindari. Sebagai manusia, kita memang hanya bisa berencana. Banyak sekali kejadian-kejadian yang tidak terduga datang. Maka dari itu, kita harus memasukkan “burnout” kedalam rencana yang kita miliki. Bagaimana caranya? Selalu buat plan untuk “refreshing” setelah bekerja sekian lama. Kalau kata anak jaman sekarang sih “healing, apapun itu istilahnya, lakukanlah hal tersebut karena memang diperlukan.

Jadi, kesimpulannya memang kita harus bekerja keras untuk mencapai seluruh ambisi dan tujuan yang kita miliki, tetapi itu bukanlah satu-satunya hal yang harus dilakukan. Akan banyak hal yang hilang apabila kita tidak memperhatikan faktor-faktor lainnya. Jangan lupa untuk menyelipkan waktu beristirahat di tengah-tengah pekerjaan kita. Jangan sampai semua tujuan tersebut yang kita kejar dengan hustle culture, rusak karena hustle culture itu sendiri. Semoga bermanfaat, YOTers.

Penulis: Ghina Firsya