Yang Lagi Viral di TikTok “Sama Kamu Sakit, Tapi Kalau Ga Sama Kamu Lebih Sakit”, Toxic Relationship?

Kalimat atau pernyataan “Sama Kamu Sakit, Tapi Kalau Ga Sama Kamu Lebih Sakit” ini sempat viral nih di TikTok. Kalimat ini bisa memiliki arti yang mellow dan romantis kalau kita menggunakan perasaan karena terkesan bahwa “he/she is the one, dan aku menerima segala manis dan buruknya sama kamu”, tapi kamu bisa pastikan lagi apakah kamu benar-benar menerima secara tulus, atau kamu “berusaha” menerima karena kamu merasa tidak ada lagi yang bisa menerima kamu selain dia?

 

Yang perlu kita pahami adalah manusia merupakan makhluk sosial, sehingga tidak mungkin bisa hidup tanpa orang lain. Akan selalu ada kondisi ketika kita membutuhkan orang lain atau hanya sekedar berinteraksi. Hubungan yang dijalani pun juga beragam, namun tidak semua hubungan yang dijalin merupakan hubungan yang sehat. Toxic relationship itu merupakan hubungan yang sudah pasti tidak menyenangkan bagi diri sendiri atau orang lain. Hubungan ini juga akan membuat seseorang merasa menjadi lebih buruk (bukannya menjadi lebih baik).

Ciri-ciri toxic relationship itu, merasa tidak aman, ada kecemburuan, keegoisan, ketidakjujuran, sikap merendahkan, memberi komentar negatif, dan mengkritik. Untuk orang yang terjebak dalam toxic relationship ini biasanya mengalami konflik batin, sehingga menimbulkan depresi, kecemasan, dan sulit untuk bisa produktif.

Kalau sudah begitu, kenapa masih mau bertahan?

Namanya “terjebak” ada keinginan mau pergi tapi gabisa pergi. Nah bahayanya adalah, saat kita sudah “terjebak” di dalam toxic relationship ini ada kemungkinan terjadi abusive relationship. Abusive relationship ini merupakan suatu hubungan yang disertai dengan tindakan kekerasan, mencakup kekerasan secara verbal, fisik, emosional/psikologis, finansial, maupun seksual.

Kasus ini tidak hanya terjadi pada perempuan, tetapi laki-laki juga. Seseorang yang berada dalam abusive relationship mengalami defisit motivasi kognitif yang menghalangi mereka untuk mencari bantuan atau informasi, serta mengakibatkan mereka kehilangan kontrol atas diri dan memercayai bahwa tidak ada satu hal pun yang dapat mereka lakukan untuk keluar dari abusive relationship. Beberapa orang bahkan merasa bahwa diri mereka memang bersalah dan pantas mendapatkan perlakuan kasar dari pasangannya. Sebagian lagi menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh pasangan mereka bukan merupakan kekerasan. Mereka menganggap – contohnya – perkataan kasar yang dilontarkan oleh pasangannya tidak dapat dikategorikan sebagai perlakuan kasar melainkan hanya representasi dari kepribadian mereka yang tegas atau mungkin cara dia melampiaskan emosinya.

Rasa cinta yang signifikan terhadap pasangannya membuat seseorang lebih memilih bertahan dalam abusive relationship. Rasa cinta yang mendalam juga dapat menimbulkan ketakutan dalam diri seseorang untuk meninggalkan pasangannya. Kemudian saat 1 tindakan kekerasan didiamkan (dalam artian dianggap wajar), maka ada kemungkinan muncul tindakan kekerasan yang lainnya.

Kekerasan bukanlah fenomena yang baru, karena kejadian ini sudah berlangsung sejak lama. Kekerasan merupakan bentuk ketidakseimbangan peran antara perempuan dan laki-laki sehingga muncul rasa dominan dan perilaku diskriminasi. Poerwandari menyatakan bahwa adanya ketidaksetaraan gender seringkali memposisikan wanita sebagai pihak lemah, dan laki-laki yang dianggap mempunyai kuasa. Oleh karena itu, Sunarto menyatakan bahwa korban kekerasan terhadap mitra intim maupun kekerasan dalam pacaran cenderung dialami oleh wanita, bukan berarti tidak ada pria yang mengalaminya juga ya.

Menurut catatan tahunan Komnas perempuan pada tahun 2017, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan meningkat 25% dari tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 348.446 kasus di seluruh Indonesia. Angka tersebut membuktikan bahwa masih banyak perempuan yang belum menikah menjadi korban kekerasan. Dan perlu diingat bahwa kasus itu baru yang tercatat, masih banyak korban yang tidak sadar atau tidak mau melaporkan kasus ini.

Jadi, kamu lebih memilih untuk terus bertahan dalam rasa sakit seumur hidup atau mengambil keputusan untuk pergi dan merasakan sakit yang lebih singkat (tidak selamanya)?

Oleh: Felisya Agustina Putri Wijaya