Jatuh dan Bangkit: Akhirnya Bisa Ke Luar Negeri Gratis

Hello guys! Ini pertama kalinya gue nulis di websitenya YOT setelah 10 tahun YOT berdiri untuk menginspirasi pemuda Indonesia. Sebenarnya, YOT juga yang menginspirasi gue untuk membuat konten positif dan bermanfaat, salah satunya adalah membagikan cerita pengalaman gue saat harus bangkit di tengah kegagalan seleksi beasiswa ke luar negeri. Alasan utama kenapa gue pengin nulis pengalaman gue ini adalah gue pengin memotivasi temen-temen yang mungkin sedih karena harus menghadapi kegagalan ketika mau berangkat ke luar negeri secara fully funded (Well, siapa yang gak mau?). Gue pengin menjadikan tulisan ini sebagai tulisan yang mungkin akan menjadi reminder bagi kita semua ketika sedang terpuruk menghadapi kegagalan yang bertubi-tubi. Oh iya, sebenarnya tulisan ini juga mengandung tiga value YOT yaitu Dream and Think Big, Be Specific, Be Confident, dan Never Give Up.
Oke, jadi gue sejak dulu pengin banget yang namanya ke luar negeri gratis. Setiap hari gue nanya ke nyokap, “Kapan ya Bu, saya bisa ke luar negeri?” Jawaban nyokap gue pun selalu sama, “Kamu belajar yang rajin, pasti kamu bisa ke luar negeri gratis” Itu yang selalu gue inget karena gue pribadi bukan terlahir dari keluarga yang serba berkecukupan. Oleh sebab itu, gue harus berjuang sekuat tenaga untuk bisa ke luar negeri gratis dan merealisasikan mimpi gue itu.
Alasan gue ke luar negeri sebenernya pengin belajar. Ya, belajar beradaptasi, bersosialisasi, juga berkomunikasi. Nah, ceritanya dulu pas SD, gue demen banget nontonin drama Korea dan pengin banget menginjakkan kaki ke sono. Makanya gue sejak SD mulai nyariin info beasiswa ke Korea. Pas SMP, gue nyari kan ya.. gak ada beasiswa ke luar negeri untuk siswa SMP sehingga gue harus menunggu masa SMA. Ketika SMA inilah, pertarungan sesungguhnya dimulai.
SMA kelas 10, gue ikut seminar-seminar beasiswa. Ada salah satu instansi yang mintain data gue. Beberapa hari setelah itu gue ditelepon, ditanyain mau gak ke Australia gratis. Tanpa pikir panjang, gue mau lah! Kapan lagi coba? Terus gue disuruh ngisi formulir gitu dan ternyata gue disuruh bayar sekian dollar. Penipu emang, hih. Dari situ gue harus bener-bener mastiin setiap beasiswa yang mau gue apply, fully funded or partially funded.
Di semester 2 kelas 10, ada sosialisasi Bina Antarbudaya di sekolah gue. Ceritanya gue gak tahu ada sosialisasi, tapi guru gue tiba-tiba bilang di kelas “Syafina, di aula ada sosialisasi beasiswa ke Amerika. Kamu gak mau ikut?” Demi rambut panjang Monalisa, gue langsung ngicir—tentunya setelah izin sama guru gue. Awalnya gue tanya, apakah negara tujuannya ada ke Korea, mereka bilang nggak. Yaudah deh, gue mikir.. ‘yang penting gue ke luar negeri’. Di situlah gue apply, ikut seleksinya sampe akhir dan akhirnya gue gagal di tahap nasional. Waktu itu Bina Antarbudaya nawarin dua jenis beasiswa yaitu AFS yang partially funded atau KL YES yang fully funded. Gue jadi calon peserta beasiswa KL-YES, full scholarship ke Amerika Serikat.
Setelah ketidaklulusan gue di KL-YES Nasional, gue dikirimin email sama pihak Bina Antarbudaya Pusat untuk ikut Green Academy ke Jerman. Tapi itu gak fully funded jadinya gue tidak berharap banyak. Abis itu, gue dikontak sama kepala chapter Bina Antarbudaya Palembang untuk ikut beasiswa IndonesiaMotiv yang Spring Program ke Northern Illinois University, USA. Guess what? Alhamdulillah gue lolos seleksinya sampe gue dinyatakan berangkat. USA! I’m comin! Yah, meskipun beasiswa ini partially funded, SMA gue nyanggupin buat bayarin cuy. Kebayang ga sih gimana senengnya gue?
Namun mimpi mungkin hanyalah mimpi. Ya, mimpi hanyalah mimpi, bisa atau tidaknya direalisasikan itu berdasarkan takdir dan tergantung bagaimana individu menyikapinya. Kali ini, gue gagal ke USA itu karena programnya gak jelas. Gue follow up juga gak jelas, gak ada kabar. Padahal tahun pas gue lulus itu adalah tahun ketiga. Yaudah deh, gue sabar aja.
SMA kelas 3, gue daftar conference gitu. Gue lolos ke Malaysia, Singapura, dan Thailand dari program YouCan Indonesia. Tapi itu posisinya gue barusan banget lulus SMA dan belum keterima di universitas, jadi status gue sebagai siswa atau mahasiswa juga belum jelas dan gue gak bisa minta bayarin SMA gue.
Abis itu… masuklah ke jenjang perkuliahan. Gue diterima di UI jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea. Dengan harapan, semakin dekatlah gue menuju mimpi gue ke Korea. Singkat cerita, gue waktu itu daftar conference ke Jepang—programnya gue lupa, terus gue gak lulus. Nyoba-nyoba aja sih, siapa tahu mujur. Gue kemudian juga  daftar esai yang hadiahnya ke Korea, berapa kali sampe gue bosen, tetep juga gak menang. Gue ikut lomba pidato bahasa Korea yang hadiahnya ke Korea (meskipun hadiahnya diganti), gue gak juara 1. Terus di akhir tahun 2016, gue lolos conference ke Seoul! Akhirnya…
Akhirnya gue gagal lagi wkwk. Iya, gue waktu itu udah lolos. Gue udah dapet sponsor dari pemerintah Kota Palembang. Tapi, orang tua gue gak ngizinin. Yah, apa boleh buat. Daripada entar gue pergi terus kenapa-napa kan yak? Mending gue ikutin kata orang tua.
Di awal 2017, gue daftar esai ASEF yang ke Seoul. Tapi gue gagal. Terus gue daftar PPAN Jakarta. Di sinilah gue nemuin orang-orang hebat, kenalan baru, yang ‘mungkin’ telah mengubah hidup gue. Jadi kemarin, gue udah lolos PPAN Jakarta sampe tahap akhir. Tinggal tahap akhir dan negara tujuan gue tetap sama seperti negara yang gue impikan sejak SD: Korea Selatan. Tapi gue gagal lagi. Pas banget di tahun itu Korea Selatan programnya bukan buat cewek 🙁
Abis gue ikut PPAN Jakarta, gue dapet golden ticket conference ke Beijing. Golden ticket cuy, gue udah lulus, dan ‘kabarnya’ fully funded. Eh tahunya dia minta dibayar berapa USD gitu ah elah gagal lagi gue ke luar negeri.
Terus, gue daftar Tanoto Foundation. Katanya sih, kalo kita dapet beasiswa Tanoto, kita bisa minta sponsor langsung ke Tanoto buat biayain conference. Well, Allah SWT berkata lain. Gue gak lolos Tanoto di tahap akhir. TAHAP AKHIR LAGI. Kayaknya Tanoto gak nerima anak FIB hehe.
Capek? Iya! Mau nyerah? Pasti! Kadang gue mikir, apa gue gak boleh ke luar negeri sama Tuhan? Kenapa gak boleh? Terus gue mikir lagi, iyasih bahasa Inggris gue masih cetek, bahasa Korea gue apalagi. Gue ngomong pake bahasa Indonesia aja masih belepotan. Mungkin, Tuhan pengin gue buat belajar lebih atau gue harus move on dengan segala per conference, student exchange dan semacamnya ini.
Pernah suatu hari di semester 1, gue ngomong ke Anastasia Hannas Putri—sohib sejurusan gue, gue ama dia bertekad untuk ke Korea bareng tapi fully funded. Berhari-hari kami memendam asa untuk ke Korea dan realitas itu tak kunjung tiba. Akhirnya pas Oktober 2017, kita apply Bank Shinhan Scholarship Program—bank dari Korea. Beasiswa itu beasiswa sekali cair. Gue sempet terucap ke Anas, “Nas, kalo keterima beasiswa ini, uangnya kita pake ke Korea yuk?” Anas bilang, “Jangan diharepin Din, gue gak mau berharap banyak pokoknya”. Namun, jiwa ambisius dalam diri gue berkata bahwa ada ‘banyak’ harapan untuk beasiswa Bank Shinhan.
Beberapa bulan setelahnya, gue dan Anas LOLOS beasiswa Bank Shinhan dan langsung disuruh tanda tangan beasiswa. Waktu itu, Bank Shinhan seleksinya ngeliat berkas aja, pake CV dan IPK. Gak nyangka bisa lolos huhu. Akhirnya gue dan Anas bisa langsung penelitian skripsi—berhubung cari sumber tentang Korea di Indonesia masih lumayan susah. Langsung terbayang 서나기 마을  dan tempat bersejarah di Korea Selatan. Setelah duitnya cair, gue dan Anas langsung reservasi guesthouse + tiket pesawat PP biar FIX JADI KE KOREA DI 2018. Udah capek gue dengan seluruh kegagalan wkwk.
Setelah reservasi tiket dan guesthouse, kita lupa ternyata ada hal yang JAUH LEBIH PENTING ketimbang mesen tiket pesawat. Tebak apa coba? VISA! Iya, visa! Visa itu yang menentukan berangkat atau tidaknya kita ke negara tujuan. Ternyata ngurus visa itu gak segampang beli tiket pesawat. Ada beberapa berkas yang harus disiapin dan gue mentok banget di rekening koran + SPT PPh (?) itu. Katanya sih, saldo aman minimal 10 juta. Tapi katanya (juga) sih, saldonya harus stabil selama 3 bulan alias gak boleh ada saldo masuk tiba-tiba. Dikarenakan gue bukan anak orang kaya, tak punya saldo 10 juta juga di rekening. Berdasarkan pengalaman senior gue yang pernah ke Korea, gak perlu pusing mikirin gituan—at least ada penjamin… semua inshaa Allah aman. So, gue minta sepupu gue buat jadi ‘penjamin’. Dia tanda tangan di atas meterai dan menyatakan bahwa dia akan menanggung seluruh biaya perjalanan gue (sebagai formalitas aja sih). H-1 sebelum bikin visa, gue telepon pihak kedutaan Korea buat konfirmasi ulang. Katanya, sepupu gue gak bisa jadi penjamin karena dia beda KK sama gue. Ditambah lagi, SPT PPh adalah HAL YANG SANGAT WAJIB. Mampus gue, ortu gue gak punya SPT PPh. Jalan keluarnya, gue tanda tangan di atas meterai lagi dan menyatakan bahwa gue baru bikin NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) sehingga belum ada SPT PPh (lucky me yang waktu itu emang baru beberapa bulan bikin NPWP).
Jujur, H-1 bikin visa.. gue nangis-nangis sama temen gue. Gimana coba kalo visanya ketolak? Gimana coba kalo semuanya hangus? Mana tiket kagak bisa direfund + direschedule lagi huhu. Dikarenakan gue takut sepupu gue gak bisa jadi penjamin, gue masukkin print out rekening koran gue dengan saldo gendut yaitu ditransfer 10 juta secara tiba-tiba sama sepupu gue. Padahal sebenernya gak boleh :’
Ketika tiba di Kedutaan Besar Korea Selatan yang ada di Jalan Gatot Subroto Jakarta, foto di berkas yang gue lampirin juga kayaknya salah. Mampus banget gue. Orang lain fotonya pada full face, lah gue pas foto kuliah which means setengah badan gitu. Gue udah pusing banget mikirin rekening koran sam SPT PPh, mana sempet lagi gue mikirin foto. Asal ada foto latar putih gue langsung tempel. Ah sudahlah, gue gak berharap banyak sama visa.
Kalopun emang gak berangkat lagi, berarti jalan gue bukan di sini. Berarti gue harus ikhlas, rela, tetap berdoa, dan jangan berhenti mencoba. C’mon, we’ll never know till we have tried Gue udah pasrah sepasrah-pasrahnya. Mana pas gue bikin visa itu orang kedutaannya lagi cuti lebaran, jadi visa gue bisa keluar di tanggal 25 Juni 2018. Padahal gue berangkat tanggal 26 Juni 2018. Mepet banget kan ya? Gimana coba kalo visa gue ketolak? Hangus udah uang pendaftaran visa Rp544.000,00 ditambah tiket PP dan guesthousenya.
Setiap hari gue liatin itu pengumuman visa. Sampai akhirnya gue ngeliat tulisan kecil banget ‘허가/approved’. EH WOY GUE GAK SALAH LIAT KAN? Langsung gue screenshot dan gue refresh. Ternyata bener! Visa temen gue juga approved dan akhirnya kita… “BERHASIL MEREALISASIKAN MIMPI KITA YANG SEJAK SD TELAH BERSEMAYAM”
Moral valuenya, jangan berhenti mencoba. Apapun, meski gagal sekalipun bukan berarti kita adalah orang yang tidak layak untuk menang. Kemenangan pasti akan datang di saat yang tepat. Hal yang paling penting, jangan berhenti ikhtiar. Usaha dan doa harus sejalan, pasti akan indah pada waktunya.